Ketika saya tanya, mengapa waktu itu menggelar pameran memedi sawah. Kata Mas Hari, situasi menjelang Pemilu 2019 memang menakutkan, seperti memedi sawah yang digerak-gerakkan petani menakuti burung-burung pipit yang tengah menjarah padi.
Masa kampanye, waktu itu, didominasi oleh kampanye yang mengkapitalisasi isu-isu SARA, politik identitas, konten berita palsu dan ujaran kebencian, teror, serta olok-olok politik antar kubu terkait isu-isu yang tidak substantif, dan segala macamnya yang membuat banyak orang, terutama yang berpikiran waras, mencemaskan masa depan negeri ini.
Baca Juga: Booster Vaksin Kedua Digenjot Lagi, Kenapa ?
Baca Juga: Manfaat Ketimun Bagi Kesehatan Ternyata Tinggi , Tapi Disepelekan
Kondisi itu diperparah dengan masifnya mobilitas kampanye di media sosial dalam segala macam platformnya, melalui mobilisasi influencers dan pasukan buzzer. Tujuannya adalah untuk mempercepat amplifikasi dan penyebaran isu. Alih-alih mendorong proses pemilu yang berkualitas, fenomena ini justru semakin menambah polarisasi di masyarakat.
Menurut temuan riset Puskapol, Ul — Center for Political Studies (2019), konteks kontestasi pilpres saat itu antara lain merupakan residu dari tajamnya polarisasi politik dan politisasi isu-isu identitas yang terjadi selama Pilpres 2014 dan Pilgub DKI Jakarta 2017. Ada semacam dinamika kontestasi dan polarisasi yang terus dirawat.
Baca Juga: Harapan Gelar Arsenal Memudar, Setelah Kalah Tiga Gol Tanpa Balas oleh Brighton
Baca Juga: Barcelona Juara La Liga untuk ke-27 Kalinya
Fenomena industri konsultan politik, influencer, dan buzzer dalam kampanye digital pasangan calon. Selain berperan penting dalam menentukan produksi isu dan amplifikasi konten kampanye di platform digital, peran mereka juga turut memperburuk polarisasi politik dan politisasi isu-isu identitas. Setiap isu-isu non-programatik terus direproduksi dan diglorifikasi oleh cyber army masing-masing kubu.
Kata Mas Hari, sebelum Pemilu 2019, segala macam yang menimbulkan rasa takut, yang meneror masyarakat, yang membuat rakyat kecil takut—entah itu berita hoaks, ujaran kebencian, fitnah, politik identitas, dan segala macamnya—seperti memedi sawah yang meneror burung-burung pipit.
Baca Juga: Sinopsis Film Fast X, Penutup Sequel Film Fast and Furious
Dengan kata lain, memedi sawah adalah simbol teror. Benar, memedi sawah adalah simbol teror (bagi burung pipit atau hama padi lainnya). Maka, para petani memasang memedi sawah di sawah mereka ketika padi mulai menguning agar tidak dijarah pasukan burung pipit.
***
Cerita Mas Hari itu mengingatkan saya waktu masih tinggal di desa, dulu. Ketika padi sudah mulai menguning, maka mulailah para petani memasang orang-orangan sawah, memedi sawah. Karena, orang-orangan itu fungsinya untuk menakut-nukuti burung yang biasanya ketika padi mulai menguning datang berombongan, bisa puluhan bahkan ratusan jumlahnya, memakan bulir-bulir padi yang sudah menguning itu.