'KETEMU SAUDAGAR' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Senin, 29 Mei 2023 | 12:20 WIB
Melinting cerutu (triaskredensialnews/ Trias Luncahyono)
Melinting cerutu (triaskredensialnews/ Trias Luncahyono)

Baca Juga: Cerbung: BUNGA MERAH JAMBU [Extra Part 3] -- 44 By Masdaraimunda

Suatu hari, kata Soedomo, warna sachet kopi jualannya berbeda sedikit agak kehijau-hijauan, karena ada kesalahan di pabrik pembuatnya. Ternyata, kopi dengan sachet "baru" ditolak pasar. Yang ditolak bukan hanya kopinya, tapi juga warna sachet-nya. Kata para pelanggan, rasa kopi dalam sachet "barn" itu terlalu pahit. Padahal, sebenarnya sama saja.

Sejak saat itu, Soedomo keukeuh, warna sachet kopinya tidak akan pernah diganti. Meskipun, ada yang bilang warna sachet-nya jelek. la percaya bahwa setiap warna memiliki kekuatan, makna, dan kesan tertentu bagi setiap orang.

Baca Juga: INFO HAJI 2023 : Jemaah Diimbau Membawa Alat Pelindung Diri

Warna bukan hanya membangkitkan estetika atau menunjukkan kepribadian, tapi warna identik dengan keseharian dan kebiasaan maupun jati did seseorang. Warna dapat memberikan tujuan, makna dan arti yang dapat menunjukkan kepribadian atau branding dari suatu perusahaan bahkan partai politik.

Maka itu, warna bukan hanya ada kaitannya dengan kehidupan sosial manusia. Bahkan, warna juga memiliki arti politik. Warna menjadi simbol politik. Dalam dunia politik, warna menjadi identitas partai: merah, misalnya, beda dengan dengan kuning, hijau, biru, ungu, putih, hitam, abu-abu, cokelat, oranye, dan merah muda.

Baca Juga: Pelatih Sam Allardyce gagal selamatkan Leeds dari degradasi

Bahkan, kata Min Reuchamps (2014), dalam dunia politik, warna melambangkan ideologi. Warna merah, misalnya, di AS diasosiasikan ideologi konservatif Partai Republik. Sementara warna jingga melambangkan ideologi politik demokrat Kristen.

***

 

Pabrik kerupuk Sekar Laut (Foto: Trias Kuncahyono)
Pabrik kerupuk Sekar Laut (Foto: Trias Kuncahyono) (triaskredensialnews/ Trias Kuncahyono))

Soedomo juga Alim Markus, Halim Rusli, Harry Sunogo, Welly Muliawan, Welly Gunawan, Ricky Ongkowoharjo, dan Febrian Kahar Miam adalah saudagar, juragan. Mereka itu juragan betulan, bukan juragan atau saudagar politik apalagi makelar atau tengkulak politik.

Mereka tidak muncul musiman—Soedomo dan Alim Markus, misalnya, sudah berwira-usaha sejak usia remaja—seperti saudagar politik, makelar politik, dan tengkulak politik. Para saudagar politik, tengkulak politik, dan makelar politik muncul di saat musim politik tiba. Karena komoditas mereka adalah politik. Mereka memperjual-belikan politik.

Baca Juga: Olah Raga Bersama Teman Lebih Sehat

Bagi mereka, yang bisa menjadi komoditas tidak hanya politik, tetapi juga agama, ras, suku, dan etnis. Maka jadilah agama, misalnya, menjadi komoditas politik. Dad segi kepentingan politik, agama adalah bahan bakar mesin politik yang efektif

Kata Abdul Gaffar Karim (2018) dosen politik dari UGM, agama bisa menjadi komoditas politik karena sifat agama yang memiliki likuiditas tinggi. Agama adalah identitas manusia yang paling mudah dijual. Sensitivitas agama melebihi identitas suku, ras, dan kelas sosial.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X