LOMBA MAKAN KERUPUK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior/Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Selasa, 16 Agustus 2022 | 16:01 WIB
Lomba makan kerupuk (wikimedia.org)
Lomba makan kerupuk (wikimedia.org)

LOMBA MAKAN KERUPUK

Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior/Penulis Buku

Lomba makan kerupuk–selain lomba balap karung, lomba panjat pinang, dan lomba tarik tambang, misalnya—memang identik dengan peringatan perayaan kemerdekaan, 17 Agustus.

Lomba makan kerupuk, sudah populer sejak dulu. Kerupuk identik dengan makanan rakyat. Bahkan, menurut Historia (31 Agustus 2017) cerita, kerupuk sudah disebutkan dalam naskah Jawa kuno sebelum masa abad ke-10 Masehi, dalam prasasti Batu Pura.

Baca Juga: Bharada E Resmi Menjadi Justice Collaborator. Ini Sejumlah Hak dan Apresiasi yang Didapatkannya

Dulu, di awal-awal republik, perlombaan-perlombaan itu bertujuan untuk menghibur rakyat setelah masa peperangan berakhir. Kini, selain bertujuan untuk menghibur rakyat, juga untuk mempererat persaudaraan, persatuan, dan kesatuan.

Sebenarnya, lomba-lomba yang diadakan saat memperingati perayaan Hari Kemerdekaan juga merupakan ungkapan syukur. Ungkapan syukur atas kemerdekaan.

Ungkapan syukur, memang, bisa diungkapkan dalam berbagai rupa dan bentuk. Mengucap syukur sudah menjadi bagian dari gaya hidup kita orang beriman. Sebab, bersyukur adalah kehendak dari Allah. Ucapan syukur adalah tanggapan kita akan anugerah yang sudah Tuhan berikan.

Baca Juga: Alamak, Kasus Pencurian dan Pengancaman Karyawan Alfamart Dihentikan. Ini Dia Penyebabnya

Allah selalu menginginkan kita untuk selalu mengucapkan syukur dalam segala hal, saat sedang berada dalam kesulitan ataupun kesenangan dan bukan hanya saat kita sedang menerima berkat akan tetapi saat kita menemukan kesulitan di dalam hidup. Ibarat kata, “tiada hari tanpa bersyukur”, dan kata Jakob Oetama, “Syukur tiada akhir.”

Di saat kita mengucapkan syukur di dalam semua kondisi seperti sehat, sakit, senang, susah, gagal ataupun sukses, maka ini berarti kita sebagai umat mengakui Tuhan yang memegang sepenuhnya atas kehidupan kita.

Baca Juga: Astaga, Komnas HAM Pastikan Tidak Temukan Indikasi Penganiayaan terhadap Brigadir J

Bukankah, sepanjang sejarah bangsa ini, Tuhan mencurahkan kasih sayang yang besar kepada kita semua. Tuhan menumbuhkan kesadaran kita sebagai bangsa, atas bahasa yang mempersatukan kita, dan atas Pancasila, dasar kemerdekaan kami. Kita bersyukur Kebangkitan Nasional yang membangkitkan kesadaran kebangsaan kita.

Kita bersyukur atas Sumpah Pemuda yang mempersatukan kita: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa. Kita bersyukur atas Proklamasi Kemerdekaan yang membebaskan kita dari cengkeraman kekuasaan asing dan menjadi tonggak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X