Detox Media Sosial Itu Percuma Kalau Kamu Tidak Ubah Kebiasaan Ini

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Rabu, 22 Juli 2026 | 21:47 WIB
ilustrasi Detox media sosial tak akan berhasil jika kebiasaan dan cara mengelola emosi  (Pinterest @care_counsolling)
ilustrasi Detox media sosial tak akan berhasil jika kebiasaan dan cara mengelola emosi (Pinterest @care_counsolling)

TITIKTEMU.CO-Pernah menghapus Instagram selama seminggu, mematikan notifikasi, atau bahkan uninstall semua aplikasi media sosial, tetapi begitu kembali justru scrolling lebih lama dari sebelumnya? Kalau iya, mungkin masalahnya bukan ada pada media sosial itu sendiri.

Detox media sosial memang bisa membantu, tetapi efeknya sering hanya sementara jika pola pikir dan kebiasaan yang mendasarinya tidak ikut berubah.

Fenomena ini semakin sering terjadi. Banyak orang merasa perlu "kabur" dari media sosial karena lelah, cemas, atau terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Sayangnya, setelah masa detox selesai, kebiasaan lama kembali terulang.

Baca Juga: Olahraga Pagi Itu Overrated? Riset Terbaru Justru Menunjukkan Sore Bisa Lebih Efektif

Detox Media Sosial Bisa Membantu, Tapi Bukan Solusi Utama

Istilah detox media sosial mengacu pada jeda sementara dari penggunaan platform digital.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan media sosial dapat membantu menurunkan stres, memperbaiki kualitas tidur, dan mengurangi kecemasan pada sebagian orang.

Namun, para peneliti juga menemukan bahwa manfaat tersebut sering kali tidak bertahan lama jika seseorang kembali menggunakan media sosial dengan pola yang sama seperti sebelumnya.

Baca Juga: Healing ke Kafe Estetik Itu Bukan Self-Care, Ini Fakta Psikologis yang Sering Disalahpahami

Artinya, yang perlu diperbaiki bukan hanya durasi penggunaan, tetapi juga alasan mengapa kita terus membuka media sosial.

Masalahnya Bukan Aplikasi, Melainkan Kebiasaan

Pernah tanpa sadar membuka Instagram hanya beberapa detik setelah menutup TikTok? Atau mengambil ponsel setiap kali merasa bosan?

Psikologi menyebut perilaku ini sebagai habit loop, yaitu kebiasaan yang terbentuk karena adanya pemicu, rutinitas, dan hadiah. Rasa bosan, stres, atau cemas menjadi pemicu. Scrolling menjadi rutinitas. Sementara rasa terhibur sesaat menjadi hadiahnya.

Inilah sebabnya menghapus aplikasi sering kali tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Otak tetap mencari pelarian lain untuk mendapatkan sensasi yang sama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X