Di tengah dunia yang riuh namun hampa, ketika kecepatan mengalahkan kedalaman, dan algoritma menentukan nilai, hanya satu hal yang tetap murni:
Tulisan yang lahir dari hati manusia.
Yang merangkak dari luka, cinta, kerinduan, dan iman.
AI tidak membunuh penulis. Tapi memaksa mereka memilih:
Apakah kau menulis demi uang?
Atau demi merawat makna hidup?
Untuk mereka yang masih menulis di malam sunyi,
Yang tak berharap royalti,
Yang menulis agar tak mati dalam diam—
Teruslah.
Karena setiap kata yang kau tulis adalah lilin kecil di lorong gelap peradaban.
Namun, bagi mereka yang berharap hidup hanya dari menulis, pahamilah: zaman telah berubah.
Baca Juga: Gaji ke-13 ASN dan Pensiunan Cair Mulai 2 Juni 2025, Ini Besaran Lengkapnya
Data di Eropa dan Amerika menunjukkan: hanya 1% penulis yang bisa hidup dari tulisannya.
Ini hukum besi zaman. Terlalu kuat bahkan untuk dilawan oleh pemerintahan.
Silakan berlomba menjadi 1% itu. Tapi ingat: 99% lainnya akan tersingkir.
Zaman tak membunuh penulis. Tapi menyeleksi mereka.
Yang akan bertahan adalah:
• Penulis yang menjadikan menulis sebagai pencerahan atau hobi.
• Dan segelintir yang berhasil mengelola tulisan bernilai komersial.
Baca Juga: Jadwal Keberangkatan KRL Jogja Solo 2–5 Juni 2025, dari Stasiun Tugu Yogyakarta ke Stasiun Palur
Artikel Terkait
'BERKIBARLAH BENDERAKU' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku, Dubes RI di Vatikan
'BRUTUS DAN YUDAS' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku, Duta Besar RI untuk Vatikan
'BUNG KARNO DI OMAH PETROEK' Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku, Duta Besar RI di Vatikan
'SPARTACUS CAPUA' Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku dan Duta Besar RI untuk Vatikan
KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA
'PEMBANTAIAN DI FINAL LIGA CHAMPIONS EROPA 2025 DAN FILOSOFI BARU SEPAKBOLA' Oleh: Denny JA