TITIKTEMU.CO
Desa Adat Penglipuran menjadi salah satu obyek wisata unggulan di Bali. Desa Wisata Penglipuran ini layak menjadi tujuan wisata karena menawarkan budaya dan tradisi yang asli, dan merupakan desa yang berwawasan lingkungan.
Deretan rumah bersih dan rapi dengan mudah bisa ditemukan di Desa Penglipuran, sebuah desa adat yang terletak di ketinggian 700 meter di Kecamatan Kubu, Bangli, Bali.
Pada 2016, Desa Penglipuran dinyatakan sebagai salah satu desa terbersih di dunia bersama dengan Desa terapung Giethoorn di Belanda, dan Desa Mawlynnong, India.
Baca Juga: Gubernur Ganjar: Geothermal Dieng Bisa untuk Wisata Energi!
Jauh sebelumnya, pada 1995, masyarakat Desa Penglipuran menerima Penghargaan Kalpataru dari pemerintah Indonesia. Masyarat desa dianggap berjasa atas kelestarian lingkungan.
Salah satunya adalah memelihara dan menjaga sekitar 75 hektar hutan bambu sekaligus melestarikan tata ruang dan bangunan tradisional peninggalan leluhur.
Sejak Abad ke-18
Desa Penglipuran menjadi objek wisata sejak 1993. Sejak 10 tahun terakhir ini, Penglipuran menjadi salah satu destinasi wisata di Bali yang paling sering dikunjungi selain Ubud, Kuta, dan Nusa Dua.
Penglipuran merupakan salah satu desa tertua di Bali, telah ada sejak abad ke-18 pada masa Kerajaan Bangli. Nama desa ini diambil dari kata pengeling atau eling yang artinya “mengingat” dan pura yang artinya “tanah leluhur”.
Tidak heran jika nama Penglipuran menyiratkan bahwa penduduk tetap menjaga dan melestarika warisan moyangnya.
Baca Juga: Lagi Tren, Ini 7 Destinasi Wisata Kopi Terbaik
Asli dan Alami
Sejak awal, Penglipuran memang memiliki keunikan di antara desa-desa di Bali. Bersamaan dengan desa Trunyan, Penglipuran telah ditetapkan sebagai desa Bali Aga, atau desa asli Bali. Ini dilakukan juga dengan alasan yang sama, yaitu untuk melestarikan tradisi leluhur mereka.