Tidur 8 Jam Sudah Bukan Standar — Kenapa Sleep Quality Lebih Penting dari Sleep Quantity?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Minggu, 31 Mei 2026 | 15:38 WIB
Ilustrasi kualitas tidur lebih baik daripada durasi tidur.  (Desain AI)
Ilustrasi kualitas tidur lebih baik daripada durasi tidur. (Desain AI)

TITIKTEMU.CO-Bagi banyak orang, angka 8 jam telah lama dianggap sebagai standar emas tidur sehat. Jika tidur hanya 6 atau 7 jam, rasa bersalah sering muncul seolah tubuh sedang menuju masalah kesehatan. Padahal, perkembangan ilmu tidur menunjukkan bahwa kualitas tidur sering kali lebih menentukan daripada sekadar jumlah jam yang dihabiskan di atas kasur.

Bagi pekerja produktif usia 25–40 tahun, informasi ini bisa menjadi kabar baik. Sebab kenyataannya, kebutuhan tidur setiap orang tidak selalu sama. Ada individu yang merasa segar dan fokus setelah tidur 7 jam, sementara yang lain membutuhkan 9 jam untuk mendapatkan manfaat yang sama.

Baca Juga: Makan Siang Sendirian di Kantor Bukan Hal Menyedihkan — Justru Tanda Kamu Nyaman dengan Diri Sendiri

Mitos 8 Jam Tidur untuk Semua Orang

Angka 8 jam sebenarnya merupakan rata-rata rekomendasi untuk orang dewasa, bukan aturan mutlak yang berlaku bagi semua individu. Para peneliti menemukan bahwa kebutuhan tidur dipengaruhi oleh faktor genetik, usia, tingkat aktivitas, kondisi kesehatan, hingga stres yang dialami seseorang.

Masalahnya, banyak orang terlalu fokus mengejar target durasi tidur. Mereka melihat jam setiap malam, menghitung kekurangan tidur, lalu menjadi cemas karena takut tidak mencapai angka 8 jam. Ironisnya, kecemasan ini justru dapat membuat kualitas tidur memburuk.

Baca Juga: Beli Rumah atau Investasi Dulu? Dilema Finansial Generasi Muda yang Ternyata Tak Punya Jawaban Mutlak

Sleep Quality: Faktor yang Sering Terlupakan

Sleep quality atau kualitas tidur mengacu pada seberapa efektif tubuh beristirahat selama tidur. Tidur berkualitas berarti seseorang dapat tertidur dengan relatif mudah, tidak sering terbangun di malam hari, dan bangun dengan perasaan segar.

Bayangkan dua orang. Orang pertama tidur 8,5 jam tetapi beberapa kali terbangun karena notifikasi ponsel atau stres pekerjaan. Orang kedua tidur 6,5 jam namun nyenyak tanpa gangguan. Dalam banyak kasus, orang kedua justru bisa merasa lebih bugar dan produktif keesokan harinya.

Ini terjadi karena tubuh membutuhkan siklus tidur yang utuh, termasuk fase tidur dalam (deep sleep) dan fase REM yang berperan penting dalam pemulihan fisik, pengolahan emosi, serta konsolidasi memori.

Baca Juga: MK Putuskan Jakarta Tetap Jadi Ibu Kota, Benarkah IKN Batal? Ini Fakta Terbaru Pembangunan Nusantara

Mengapa Terlalu Terobsesi dengan Durasi Bisa Merugikan?

Fenomena yang semakin sering dibahas oleh pakar tidur adalah "orthosomnia", yaitu obsesi untuk mendapatkan tidur yang dianggap sempurna. Banyak orang memantau aplikasi pelacak tidur setiap hari dan merasa gagal ketika durasi tidurnya kurang dari target.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X