TITIKTEMU.CO - Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI), lembaga think tank independen yang fokus pada isu strategis dan pertahanan, menggelar kegiatan Networking Iftar bersama jurnalis serta pimpinan redaksi media nasional di Jakarta.
Agenda tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus forum diskusi mendalam mengenai isu-isu penting, mulai dari kebijakan luar negeri, pertahanan, hingga ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks.
Soroti Autonomi Strategis di Tengah Pergeseran Geopolitik
Dalam forum itu, ISI menekankan adanya pergeseran tatanan global menuju pendekatan realisme. Kondisi ini dinilai menuntut Indonesia memperkuat konsep “autonomi strategis” demi menjaga keberlangsungan negara (state survival).
Baca Juga: Viral Pengemudi Toyota Calya Ugal-ugalan di Gunung Sahari, Polisi Tetapkan HM sebagai Tersangka
Dewan Penasihat ISI, Muhammad Hadianto, menegaskan bahwa kebijakan luar negeri dan pertahanan merupakan dua aspek yang tidak terpisahkan.
Menurutnya, diplomasi tanpa dukungan kekuatan militer akan melemahkan posisi tawar Indonesia. Ia juga menekankan bahwa aliansi internasional perlu dipahami secara kontekstual dan tetap berlandaskan pada kepentingan nasional yang pragmatis.
Peran Indonesia dalam Board of Peace dan Misi Gaza
ISI turut mengulas keterlibatan Indonesia sebagai anggota pendiri Board of Peace (BoP), yang piagamnya ditandatangani di Davos pada Januari 2026.
Direktur Riset ISI, Ian Montratama, memaparkan tiga alasan utama di balik keputusan strategis tersebut:
Baca Juga: Viral Ramadan di Aceh: Penyintas Banjir Rela Berbagi, Hanya Ambil Satu Nasi Kotak untuk Sesama
- Amanat Konstitusi – Implementasi komitmen Pembukaan UUD 1945 untuk ikut menghapus penjajahan di dunia.
- Kebuntuan Diplomasi Global – Lebih dari 100 resolusi PBB sejak 1965 dinilai belum menghasilkan perdamaian konkret bagi Palestina.
- Urgensi Kemanusiaan – Diperlukan langkah cepat untuk menghentikan krisis kemanusiaan dan konflik di Gaza.
BoP dipandang sebagai instrumen konkret dalam mendorong solusi dua negara (two-state solution) sekaligus menjaga keseimbangan agar diplomasi global tidak didominasi satu kekuatan.
Komitmen tersebut diperkuat dengan pengiriman 8.000 personel dalam misi Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Gaza, di mana Indonesia dipercaya sebagai Wakil Komandan Operasi.
Transformasi Pertahanan dan Penguatan Ekonomi Strategis
Artikel Terkait
Viral Guru Honorer di Kupang Barat Digaji Rp223 Ribu, Tetap Mengabdi Demi Murid dan Keluarga
Viral Dugaan Pelecehan Seksual di KRL Jakarta Kota–Bogor, Korban Mengaku Sudah Lapor Sebulan Tanpa Tindak Lanjut
Viral Kondisi SD Negeri Bo’of NTT Berdinding Bambu dan Lantai Tanah, Semangat Siswa Bikin Haru
Viral Ramadan di Aceh: Penyintas Banjir Rela Berbagi, Hanya Ambil Satu Nasi Kotak untuk Sesama
Viral Pengemudi Toyota Calya Ugal-ugalan di Gunung Sahari, Polisi Tetapkan HM sebagai Tersangka