Desil DTSEN 2026 Ternyata Bukan Soal Gaji, Ini Faktor yang Menentukan Posisi Keluarga

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:43 WIB

TITIKTEMU.CO-Kalau kamu melihat angka desil keluarga di DTSEN 2026 lalu langsung menyimpulkan “berarti kondisi ekonomi saya segini”, tunggu dulu. Angka tersebut ternyata tidak sesederhana melihat slip gaji, rumah, atau kendaraan yang dimiliki.

Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa desil DTSEN 2026 merupakan posisi relatif sebuah keluarga dalam pemeringkatan kesejahteraan sosial ekonomi. Jadi, desil lebih tepat dibaca sebagai “posisi keluarga dibandingkan keluarga lain”, bukan label kaya atau miskin.

Apa sebenarnya arti desil DTSEN?

Dalam DTSEN, keluarga dikelompokkan berdasarkan sejumlah karakteristik sosial ekonomi. Hasil pemeringkatan itu kemudian dibagi menjadi 10 kelompok, dengan masing-masing kelompok secara umum mencakup sekitar 10 persen keluarga.

Baca Juga: Cuma 2 Jam! Promo Alfamart 25 Agustus 2026 Bikin Cokelat dan Camilan Makin Murah

Desil 1 menunjukkan kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling rendah. Sementara itu, desil 10 berada pada posisi relatif paling tinggi.

Yang perlu digarisbawahi, keluarga yang masuk desil 3 bukan berarti memiliki pendapatan tertentu. Dua keluarga yang sama-sama berada di desil 3 juga belum tentu memiliki penghasilan, aset, pengeluaran, atau kondisi kehidupan yang identik.

Bukan cuma soal gaji dan kepemilikan aset

Lantas, desil DTSEN 2026 ditentukan dari apa? BPS menyebut sejumlah karakteristik sosial ekonomi yang diperhitungkan secara bersamaan.

Baca Juga: BMKG Ungkap Cuaca Indonesia 25–31 Agustus: Kemarau Kering, Tapi Hujan Mengejutkan Masih Mengintai

Faktor tersebut antara lain kondisi tempat tinggal, sumber air minum, bahan bakar memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi anggota keluarga, pendidikan, pekerjaan, kondisi kesehatan, serta disabilitas.

Artinya, punya kendaraan atau menggunakan listrik dengan daya tertentu tidak otomatis membuat seseorang masuk desil tinggi. Begitu pula satu perubahan pada kondisi rumah tangga tidak serta-merta menggeser posisi desil.

Semua informasi tersebut dianalisis sebagai sebuah gambaran utuh mengenai kondisi sosial ekonomi keluarga.

Baca Juga: Bukan Sekadar Kabar Bahagia, Jang Dong Yoon Akhirnya Ungkap Siapa Calon Istrinya

Menggunakan metode statistik PMT

Dalam proses penghitungan, BPS menggunakan pendekatan Proxy Means Test (PMT). Sederhananya, metode ini memperkirakan tingkat kesejahteraan berdasarkan berbagai karakteristik yang bisa diamati ketika informasi pendapatan atau konsumsi tidak tersedia secara lengkap.

Dengan pendekatan tersebut, penentuan desil tidak bergantung pada satu angka. Berbagai data sosial ekonomi dikombinasikan untuk menghasilkan pemeringkatan relatif keluarga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: kemensos

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X