“Kalau sampai terjadi KLB, penderitaan pengungsi akan berlipat,” kata dr. Daeng.
Baca Juga: Buntut OTT KPK, Jaksa Agung Mutasi 43 Kajari, Kajari HSU dan Bekasi Dicopot!
Posko Kesehatan Harus Bergerak Sejak Awal
Menurut dr. Daeng, layanan kesehatan seharusnya sudah aktif segera setelah fase pencarian dan penyelamatan selesai.
Pada tahap evakuasi, warga biasanya dikumpulkan di satu titik, dan di sanalah pelayanan medis harus mulai berjalan.
Langkah cepat ini penting untuk mencegah penyebaran penyakit dan memastikan kondisi warga tidak memburuk.
Keterlambatan penanganan justru akan meningkatkan risiko penularan di dalam camp pengungsian.
“Kalau terlambat, warga sudah menderita, lalu sakit, dan tidak tertangani. Penyakit bisa menyebar dan makin parah,” tegasnya.
Ia menutup dengan penekanan bahwa meski kondisi di lapangan sering kali sulit, negara dan seluruh pemangku kepentingan harus menemukan cara agar posko kesehatan tetap hidup dan berfungsi.***
Artikel Terkait
Rp 5,7 Juta untuk Hidup di Ibu Kota: Ketika Angka UMP Bertemu Realita Buruh Jakarta
Hiburan Lokal Meledak di Google: Saat Konten Viral Jadi Pelarian Kolektif Masyarakat Indonesia
Drama Thriller Korea Pilihan Akhir Tahun: Penuh Misteri dan Ketegangan Psikologis
James Cameron Pertimbangkan Akhiri Avatar Jika Fire and Ash Tak Tembus Target
Gol Dorgu Antar Manchester United Raih Clean Sheet Perdana Sejak Oktober Usai Tekuk Newcastle
Dangdut Academy 7 Berakhir, Tasya Kalahkan Vallen dan Raih Gelar Juara
Buntut OTT KPK, Jaksa Agung Mutasi 43 Kajari, Kajari HSU dan Bekasi Dicopot!
Terjebak Kerja Ilegal, 9 WNI Disiksa di Markas Scam Kamboja
Avatar: Fire and Ash Tembus 3 Juta Penonton di Bioskop Indonesia
Daftar Drakor Terpopuler Tahun 2025, dari Bon Appetit, Your Majesty hingga When Life Gives You Tangerines