“Yang sering membuat air keruh adalah lempung. Sementara di daerah kapur, lempung jarang sekali ditemukan,” jelasnya.
Baca Juga: Siapa Pemilik PT Toba Pulp Lestari? Sejarah dan Kontroversi Produsen Pulp di Sumatera Utara
Fenomena serupa juga pernah terjadi di Kupang, NTT, tepatnya di Sikumana setelah badai siklon tropis Seroja pada April 2021.
Banjir besar menyebabkan munculnya danau dolina, jenis danau yang terbentuk di kawasan karst ketika air tertahan di cekungan batu kapur.
Ahli geologi Undana, Dr. Herry Kota, menjelaskan wilayah Kupang yang bertopografi karst memang memiliki potensi besar terbentuknya danau-danau dadakan saat curah hujan ekstrem.
Kejernihan Tak Akan Bertahan Lama
Meski tampak memesona, para ahli menegaskan kejernihan Danau Singkarak tidak bersifat permanen.
Eko Teguh Paripurno menyebut bahwa proses ini sangat dinamis dan bergantung pada cuaca, debit air, jumlah sedimen, serta faktor-faktor geologi di sekitarnya.
“Tapi biasanya dalam hitungan bulan akan kembali seperti sebelumnya,” katanya.
Danau Singkarak memiliki empat sungai utama yang membawa sedimen dari berbagai sisi dengan karakter yang berbeda-beda.
Sisi selatan menjadi pemasok sedimen terbesar, sementara sisi timur cenderung lebih kering dan sedikit mengirimkan material.
Pada kondisi normal, sedimen-sedimen ini membuat air danau tidak sebening yang terlihat pada video viral.
Dampak pada Ikan dan Ekosistem
Fenomena kejernihan dan upwelling juga berdampak pada kehidupan ikan. Menurut Kepala Pusat Riset Limnologi dan SDA BRIN, Luki Subehi, alga menjadi makanan alami bagi ikan-ikan belerang.
Artikel Terkait
Ketika Komunikasi Terputus: Kisah Orang-Orang yang Menanti Kabar Keluarga di Tengah Bencana
Perjuangan Menembus Tanah Terisolir: BNPB Kerahkan Pasukan Jalan Kaki dan Helikopter untuk Selamatkan Warga Tapanuli–Sibolga
Hujan Ekstrem, Siklon, dan Hutan Gundul di Balik Banjir Bandang Sumatera-Aceh
Di Bawah Lumpur Galodo: Akhir Perjuangan Erik Menemukan Ibunya Meninggal dalam Sujud