Ketika Danau Singkarak Jadi Jernih Seperti Sungai Swiss Usai Banjir Bandang, Apa yang Terjadi?

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Jumat, 5 Desember 2025 | 12:53 WIB
Ketika Danau Singkarak Jadi Jernih Sperti Sungai Swiss Usai Banjir Bandang. (Tangkapan layar TikTok @furqannn09)
Ketika Danau Singkarak Jadi Jernih Sperti Sungai Swiss Usai Banjir Bandang. (Tangkapan layar TikTok @furqannn09)

Artinya, warna toska itu bukanlah pertanda air yang benar-benar bersih, melainkan kombinasi antara kejernihan air dan tingginya konsentrasi alga.

Baca Juga: Kisah Rosita dan Hutan yang Tak Dijual: Cinta yang Menjaga Megamendung Tetap Hidup 

Peran Batu Kapur dan Sistem Karst di Sekitar Danau

Selain faktor alga, kondisi geografis dan geologi di sekitar Danau Singkarak turut memengaruhi perubahan visual air.

Pakar Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, menyebut wilayah hulu danau yang dikelilingi bebatuan karst berperan sebagai penyaring alami.

“Kapur itu bekerja seperti filter. Air hujan melewati celah-celah batuan, sedimen dan polutannya tertahan, sementara air bersih mengalir masuk,” jelas Eko.

Proses penyaringan alami ini dapat menyebabkan air terlihat lebih jernih setelah hujan besar, terutama ketika air melewati lapisan kapur yang mampu mengikat partikel halus.

Selain itu, Danau Singkarak merupakan danau tektonik yang terbentuk akibat aktivitas patahan Semangko.

 Sedimen berukuran besar sulit tersuspensi saat volume air meningkat, berbeda dengan danau vulkanik yang lebih mudah keruh.

Karena itu, ketika debit air naik, proses pengenceran makin kuat dan air tampak lebih bening.

Baca Juga: Daendels dan Reformasi Hutan Jawa: Kisah Mas Galak Perangi Pembalakan Liar 

Pernah Terjadi di Yogyakarta dan Kupang

Fenomena kejernihan mendadak setelah bencana bukan hanya terjadi di Singkarak. Pada 2017, saat Siklon Tropis Cempaka menerjang Yogyakarta, danau dadakan yang sangat jernih muncul di Gunung Kidul.

Kondisi karst di wilayah tersebut menjadi penyebab air terlihat bersih karena tidak bercampur dengan tanah lempung.

Ahli geologi Rovicky Dwi Putrohari kala itu menjelaskan bahwa daerah karst jarang menghasilkan lempung, yang biasanya menjadi sumber utama kekeruhan air.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X