TITIKTEMU.CO - Pulau Sumatera kembali dilanda bencana besar. Kali ini banjir bandang dan tanah longsor menerjang Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh.
Dampaknya benar-benar menghancurkan yang bahkan disebut warga sebagai bencana paling terburuk dalam beberapa tahun terakhir pasca Tsunasi Aceh.
Musim hujan yang menuju puncaknya, munculnya siklon tropis, dan kerusakan hutan yang berlangsung terus-menerus mengakibatkan bencana terjadi dari kombinasi sempurna faktor alam dan ulah manusia.
Baca Juga: Bencana di Sumatera, BNPB: 442 Orang Meninggal, 402 Hilang, Operasi SAR Dikebut
Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis Pemicu Awal
Curah hujan dengan intensitas ekstrem menjadi pemicu paling awal dari serangkaian bencana di Sumatera dan Aceh ini.
BMKG mencatat hujan mencapai 150–300 milimeter dalam waktu singkat, yang masuk dalam kategori ekstrem dan sulit ditahan oleh daerah aliran sungai (DAS) yang sudah melemah.
Menurut Dr. Muhammad Rais Abdillah dari ITB, Sumatera bagian tengah dan utara memang sedang masuk dalam puncak musim hujan yang biasanya terjadi dua kali dalam setahun.
Namun tahun ini, kondisinya jauh lebih parah karena dipengaruhi oleh fenomena atmosfer yang saling tumpang tindih.
Sejak 24 November, citra cuaca menunjukkan kemunculan pusaran angin dari Semenanjung Malaysia yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar.
Pada waktu yang hampir bersamaan, BNPB juga mencatat kehadiran Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan bibit siklon 95B di area lain.
Awan hujan pun menumpuk di atas Sumatera, menciptakan hujan tanpa henti dan angin kencang yang memicu banjir bandang di banyak wilayah.
“Meski tidak sekuat siklon Pasifik, Senyar tetap mampu mendorong pembentukan awan hujan besar sepanjang hari,” jelas Rais.
Bagi warga, hujan berhari-hari yang tak kunjung berhenti ini menjadi awal dari musibah yang tidak pernah mereka bayangkan.
Artikel Terkait
Begini Perkembangan Terkini Penanganan Bencana Sumut Menurut BNPB
Banjir Bandang Agam: 74 Jiwa Melayang, 2.500 Warga Mengungsi, Kerugian Tembus Rp13,9 Miliar
Operasi Udara TNI Dikebut: 76.500 Ton Bantuan Sudah Terbang ke Sumut–Aceh, Daerah Terisolasi Jadi Prioritas
BNPB Update Banjir Bandang Sumatera: 116 Korban Meninggal, Tapanuli Tengah Paling Parah dan Komunikasi Pulih via Starlink
TNI Percepat Distribusi 76 Ribu Ton Bantuan ke Sumatera dan Aceh, 11 Helikopter Dikerahkan untuk Wilayah Terisolasi
Medan Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir, 1.829 Warga Mengungsi dan Distribusi BBM Terkendala
Bencana Sumatra 2025: 303 Orang Meninggal, BNPB Ungkap Lonjakan Korban dan Tantangan Berat di Lapangan
Medan Darurat: 19 Kecamatan Terendam, Ribuan Warga Mengungsi dan Wali Kota Pastikan BBM Aman
Peringatan Kemenkes: Ancaman Penyakit Pascabanjir Mengintai, Posko dan RS Darurat Sudah Disiagakan di Sumatra
Daftar Nomor Darurat Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar