Komunikasi Antarkeraton Tetap Terjalin
Dalam kesempatan itu, Sultan HB X juga menepis anggapan bahwa hubungan antara Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta renggang. Dia menegaskan komunikasi di antara kedua keraton tetap berjalan baik.
“Sebetulnya relatif, sama beliau-beliau saya kenal. Anak-anak saya juga ada komunikasi, tidak tertutup. Hanya momentum yang diperlukan untuk dilihat publik itu susah.
Kalau upacara waktunya bersamaan, jadi momentumnya tidak mudah ditemukan. Tapi kalau komunikasi tetap dilakukan,” terang nya.
Hubungan antara Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terjalin secara historis dan genealogis. Keduanya berasal dari satu akar, yaitu Kerajaan Mataram Islam.
Namun, melalui Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton pecah menjadi dua. Meski kini berdiri sebagai entitas berbeda, hubungan kekerabatan masih terjaga hingga generasi sekarang.
Baca Juga: Mengenal Empat Raja Jawa: Ini Beda Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara
Apresiasi dari Keluarga PB XIII
Kehadiran Sri Sultan HB X disambut hangat keluarga besar Keraton Surakarta. Putri PB XIII, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan empati Sultan Yogyakarta tersebut.
“Saya sembah nuwun sanget, (Sri Sultan) bisa meluangkan waktu takziah ke Sinuhun. Kedukaan kami beliau ikut prihatin dengan tidak membunyikan gamelan selama lima hari.
Saya sangat terharu dan tersentuh, sembah nuwun, semoga hubungan Keraton Surakarta dan Yogyakarta bisa baik, biar bagaimanapun kita masih punya darah dengan Yogyakarta,” ujar Gusti Timoer.
GKR Timoer juga menambahkan bahwa meski pertemuan antara PB XIII dan Sultan HB X jarang terjadi, hubungan keduanya tetap baik.
“Ketika PB XII masih sugeng (hidup), beliau sering tindak ke sini. Saat saya menari di jumenengan PB XII, beliau juga hadir. Ketika Sinuhun bertahta, pernah bertemu di Mangkunegaran dan Pakualaman,” kenangnya.
Dengan wafatnya PB XIII, Keraton Surakarta kini menghadapi babak baru dalam perjalanan sejarahnya. Tantangan regenerasi, rekonsiliasi internal, dan pelestarian budaya menjadi tugas besar bagi penerusnya.***
Artikel Terkait
Raja Solo Sinuhun Pakubuwono XIII Wafat, Keraton Surakarta Berduka
Raja Surakarta Paku Buwono XIII, 21 Tahun Bertahta yang Penuh Konflik
Paku Buwono XIII Dimakamkan di Imogiri Rabu 5 November, Sebelumnya Dikirab Menuju Loji Gandrung
Mengenal Makam Imogiri, Peristirahatan Terakhir Raja-raja Mataram Islam Sejak Sultan Agung
Paku Buwono XIII Wafat, Ini Profil Putra Mahkota Gusti Purbaya, Calon Penerus Tahta Keraton Surakarta
Paku Buwono XIII Wafat, Keraton Yogyakarta Hentikan Suara Gamelan hingga Pemakaman Selesai
Perjanjian Giyanti Membelah Kerajaan Mataram Jadi Dua, Kisah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta
PB XIII Wafat, Siapa Calon Raja Berikutnya?
Prosesi Pemakaman PB XIII: Kirab Agung dan Tradisi Adat, Ini Jadwalnya
Sejarah Panjang Raja-Raja Solo: Dari Pakubuwono III hingga PB XIII yang Baru Wafat
Kenapa Raja Surakarta Paku Buwono XIII Dimakamkan di Imogiri?