Ini Pesan Sri Sultan HB X Soal Regenerasi Keraton Solo

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Rabu, 5 November 2025 | 09:18 WIB
Ini Pesan Sri Sultan HB X Soal Regenerasi Keraton Solo. (Dok.Humas Pemda DIY)
Ini Pesan Sri Sultan HB X Soal Regenerasi Keraton Solo. (Dok.Humas Pemda DIY)

Komunikasi Antarkeraton Tetap Terjalin

Dalam kesempatan itu, Sultan HB X juga menepis anggapan bahwa hubungan antara Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta renggang. Dia menegaskan komunikasi di antara kedua keraton tetap berjalan baik.

“Sebetulnya relatif, sama beliau-beliau saya kenal. Anak-anak saya juga ada komunikasi, tidak tertutup. Hanya momentum yang diperlukan untuk dilihat publik itu susah.

Kalau upacara waktunya bersamaan, jadi momentumnya tidak mudah ditemukan. Tapi kalau komunikasi tetap dilakukan,” terang nya.

Hubungan antara Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terjalin secara historis dan genealogis. Keduanya berasal dari satu akar, yaitu Kerajaan Mataram Islam.

Namun, melalui Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton pecah menjadi dua. Meski kini berdiri sebagai entitas berbeda, hubungan kekerabatan masih terjaga hingga generasi sekarang.

Baca Juga: Mengenal Empat Raja Jawa: Ini Beda Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara

Apresiasi dari Keluarga PB XIII

Kehadiran Sri Sultan HB X disambut hangat keluarga besar Keraton Surakarta. Putri PB XIII, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan empati Sultan Yogyakarta tersebut.

“Saya sembah nuwun sanget, (Sri Sultan) bisa meluangkan waktu takziah ke Sinuhun. Kedukaan kami beliau ikut prihatin dengan tidak membunyikan gamelan selama lima hari.

 Saya sangat terharu dan tersentuh, sembah nuwun, semoga hubungan Keraton Surakarta dan Yogyakarta bisa baik, biar bagaimanapun kita masih punya darah dengan Yogyakarta,” ujar Gusti Timoer.

GKR Timoer juga menambahkan bahwa meski pertemuan antara PB XIII dan Sultan HB X jarang terjadi, hubungan keduanya tetap baik.

“Ketika PB XII masih sugeng (hidup), beliau sering tindak ke sini. Saat saya menari di jumenengan PB XII, beliau juga hadir. Ketika Sinuhun bertahta, pernah bertemu di Mangkunegaran dan Pakualaman,” kenangnya.

Dengan wafatnya PB XIII, Keraton Surakarta kini menghadapi babak baru dalam perjalanan sejarahnya. Tantangan regenerasi, rekonsiliasi internal, dan pelestarian budaya menjadi tugas besar bagi penerusnya.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X