“Selain Sinuhun memang sudah sepuh. Gula darahnya tinggi dan sempat beberapa kali keluar-masuk rumah sakit,” ungkap Eddy.
Dia menambahkan pihak keraton kini tengah mempersiapkan prosesi pemakaman dengan penuh kehormatan sesuai adat Mataram Islam.
“Kita semua berduka, tapi prosesi akan tetap dijalankan sebagaimana adat leluhur,” katanya.
Baca Juga: Sama-sama Kerajaan Mataram, Mengapa Batik Solo Beda dengan Yogyakarta? Ini Sejarahnya
Jalur Kirab Jenazah Menuju Imogiri
Menjelang pemakaman, jenazah PB XIII akan dikirab dari Masjid Pujasana melewati area dalam Keraton Surakarta menuju Bangsal Paningrat.
Di bangsal ini akan doilakukan ritual brobosan, sebuah tradisi di mana keluarga melewati bawah peti jenazah sebagai simbol penghormatan terakhir.
Selanjutnya jenazah akan dibawa ke Bangsal Magangan, lalu dinaikkan ke kereta jenazah yang ditarik enam hingga delapan ekor kuda.
Nantinya, arak-arakan akan melintas keluar melalui Pintu Brajanala Kidul, melewati Alun-Alun Selatan hingga Plengkung Gading.
Sesuai adat Mataram Islam, seorang raja hanya boleh melintasi Brajanala Kidul pada hari pemakamannya, menjadikan prosesi ini sangat sakral dan penuh makna.
Baca Juga: Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram
Transit di Loji Gandrung
Dari Plengkung Gading, arak-arakan menyusuri Jalan Veteran, kemudian Jalan Bhayangkara, sebelum akhirnya transit di Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo.
Tradisi transit ini mengikuti tata cara pemakaman raja sebelumnya. Bedanya, ketika Pakubuwono XII wafat, jenazah sempat disemayamkan di Dalem Wuryaningratan, yang kini telah beralih kepemilikan.
“Kereta yang digunakan sama seperti kereta jenazah yang dulu dipakai saat PB X hingga PB XII wafat,” jelas KGPH Puger, adik almarhum PB XIII.
Artikel Terkait
Perjanjian Salatiga, Akhir Perlawanan Pangeran Sambernyawa
Ken Dedes, Perempuan yang Menurunkan Raja-raja di Jawa?
Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III
Blunder Patih Gajah Mada di Perang Bubat
Perang Paregreg, Majapahit Menuju Keruntuhan
Keris Mpu Gandring, Ken Arok, dan Pertumpahan Darah di Kerajaan Singasari
Gayatri Rajapatni, Perempuan Agung di Balik Kejayaan Majapahit