JGA Parrott, dalam tulisannya Who Killed Brigadier Mallaby, menyebut bahwa seorang pemuda menembaknya dari jendela mobil.
Namun, Ruslan Abdulgani, tokoh nasional yang saat itu berada di Surabaya, mengatakan mobil Mallaby meledak akibat tembakan dari para pemuda.
Film Sang Kiai (2013) menggambarkan bahwa seorang santri bernama Harun menembak Mallaby sebelum mobilnya dilempar granat oleh tentara Inggris.
Sementara Des Alwi, dalam bukunya Pertempuran Surabaya, November 1945, menyebut Mallaby tewas akibat peluru nyasar dari pasukannya sendiri.
Apapun penyebabnya, kabar kematian Mallaby menyulut kemarahan besar Inggris.
Baca Juga: Ratu Kalinyamat Diusulkan Sebagai Pahlawan Nasional dari Jepara
Pecahnya Pertempuran 10 November
Sebagai balasan atas kematian Mallaby, Mayor Jenderal E.C. Mansergh, pengganti Mallaby, mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945.
Dia menuntut rakyat Surabaya menyerahkan senjata dan mengibarkan bendera putih paling lambat pukul 06.00 pagi keesokan harinya.
Namun, Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Suryo menolak mentah-mentah ultimatum itu. Rakyat Surabaya pun sepakat untuk tetap mempertahankan kemerdekaan, meski harus melawan pasukan Inggris.
Keesokan harinya, 10 November 1945, Surabaya dibombardir dari darat, laut, dan udara. Kota berubah menjadi medan perang besar-besaran.
Di tengah situasi genting itu, suara Bung Tomo melalui siaran radio membakar semangat rakyat untuk melawan.
Pertempuran berlangsung hingga berminggu-minggu dan menewaskan puluhan ribu orang. Namun, perlawanan heroik rakyat Surabaya inilah yang kelak dikenang sebagai Hari Pahlawan.
Baca Juga: Taman MT Haryono Semarang untuk Mengenang Jasa Sang Pahlawan Revolusi
Akhir Hidup Mallaby dan Warisan Sejarah
Artikel Terkait
Tragedi G30S/PKI, Kisah Penculikan dan Pembunuhan 7 Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya
Empat Tokoh Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional 2021, Ini Profilnya
4 Tokoh Bakal Menerima Gelar Pahlawan Nasional
Proses Panjang untuk Mendapat Gelar Pahlawan Nasional, Ini Syaratnya
7 Pahlawan Perempuan Sebelum Kemerdekaan, dari Laksamana Malahayati Sampai Rasuna Said