Kantor berita AP (2020) mengungkapkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mengesahkan operasi untuk membantu Donald Trump dalam pemilihan presiden November 2029.
Rusia juga dituding Inggris (2019) berusaha ikut campur dalam Pemilu 2019, antara lain dengan mencuri dokumen sensitif tentang perjanjian perdagangan bebas yang direncanakan Inggris dan AS dan membocorkannya secara online (DW)
Sebaliknya, sebagai negara yang mengklaim pengawal demokrasi, banyak diberitakan bahwa AS lewat dinas intelijennya (CIA) membantu menggulingkan pemimpin terpilih negara lain lalu mendirikan rezim boneka.
Baca Juga: Pertama Dalam Sejarah India Menjadi Juara Thomas Cup Setelah di Final Menumbangkan Indonesia 3-0
Dov Levin dalam Meddling in the Ballot Box, AS dan Uni Soviet (dan kemudian Rusia) terlibat dalam 117 tindakan campur tangan secara terselubung atau terbuka pada pemilu untuk membantu atau menjegal kandidat atau partai di negara lain antara tahun 1946 dan 2000. AS melakukan 81 kasus campur tangan (atau 69 persen dari jumlah total kasus).
Misalnya, di Guatemala pada 1950-an dan mendukung kudeta di sejumlah negara pada 1960-an, termasuk merancang pembunuhan dan menyokong pemerintah anti-komunis di Amerika Latin, Afrika, dan Asia.
Bukan tidak mungkin demi kekuasaan di tangan ada orang yang nekad menggadaikan negeri kepada negara asing seperti Amerika Serikat dan China. Pasti ada yang tergiur untuk menerima “gadaian” itu. Sebab, kekayaan alam Indonesia selama ini selalu menggoda pihak asing untuk datang dan mengambil alih. Caranya, antara lain mendukung kandidat presiden. Balasannya nanti akan menjadi “bonekanya”.
Tapi, ini tindakan gila. Meskipun bukan tidak mungkin ada orang yang bertindak gila demi kekuasaan. Sebab, katanya kekuasaan itu selalu tremendum et fascinosum (menggentarkan sekaligus mengagumkan)….yah, seperti Sang Pencipta yang oleh teolog Protestan Rudolf Otto (1869 – 1937) disebut memiliki misteri yang menggentarkan sekaligus mengagumkan (mysterium tremendum et fascinosum). Begitulah kekuasaan yang memiliki banyak wajah. Akan menjadi seperti apa kekuasaan itu, tergantung yang memegangnya.
Keempat
Zaman sekarang ini, tidak sulit untuk menonton sepak-terjang, perilaku, polah tingkah, lagak lagu, gaya, tipu daya, bujuk rayu, dan termasuk sandiwara yang mereka mainkan, termasuk di atas sudah disebut main playing victim. Media sosial menyebarkan semua yang mereka lakukan secara merdeka.
Semua orang–politisi dan tokoh pemerintah–yang disebut-sebut atau menyebut dirinya secara terang-terangan atau malu-malu kucing sebagai calon kandidat presiden, sudah naik panggung. Ada-ada saja yang mereka lalukan. Yakni, mulai dari yang berkelas sampai ke yang sama sekali tak berkelas alias norak. Ada yang “menyebar” sumbangan dana kepada berbagai ormas, termasuk ormas keagamaan.
Ya, ibarat kata, sekarang ini saat menebar benih, siapa tahu nanti tumbuh dan berbuah. Dan, buahnya banyak. Meski, rakyat yang pintar sudah tahu dan paham, benih-benih itu disebar hanya sekadar untuk mencari simpati.
Ada yang menyebut dirinya atau disebut memiliki darah biru (bangsawan), ulama, bahkan keturunan nabi. Ada pula yang berusaha meyakinkan bahwa dalam dirinya mengalir seratus persen darah asli Indonesia. Ah, segala cara dilakukan termasuk ziarah kubur.
Artikel Terkait
Tahun 2024 Masih Lama. Sudah Ada Yang Deklarasi Capres!
Menko Airlangga Blusukan ke Kampung UMKM Kuliner, Dikenalkan sebagai Capres
Kritik Deklarasi Ganjar Capres, Ketua DPC PDI-P Kebumen: Banteng Selalu dalam Barisan
Partai Gerindra Jateng Deklarasikan Prabowo Subianto Menjadi Capres 2024
Anggota KPU dan Bawaslu periode 2022-2027 Terpilih Ditetapkan DPR. Sama dengan yang Beredar di WA Sebelumnya
Jokowi: Pemilu Dilaksanakan 14 Pebruari 2024, Pilkada November 2024, Sudah Jelas Semua!
KPU Gelar Rapat Pleno, Tetapkan Ketua, Divisi dan Korwil. Hasyim Asy'ari Pimpin KPU