Yang tidak ketinggalan, seperti yang sudah-sudah, agama pun dimainkan. Sentimen agama memang kuat bagi yang berpikiran terbatas, tidak memikirkan masa depan negara, terutama menyangkut persatuan dan kesatuan. Permainan agama ini lantas secara sigap disambut oleh mereka yang suka jualan agama. Ini sudah banyak kali dilakukan dan naga-naganya akan dilakukan lagi.
Salahkan semua itu? Tidak juga. Hanya, apakah cara-cara semacam itu mendidik, membuat rakyat tambah cerdas, pintar, berpikiran terbuka atau justru membuat rakyat semakin bodoh dan berpikiran sempit?
Kita sih, menunggu mereka itu melakukan kampanye (walau belum resmi dimulai) yang cerdas, yang tidak lagi main agama, yang tidak mengusung sektarianisne, tetapi yang memberikan harapan dan menunjukkan jalan ke Indonesia baru yang maju.
Tetapi repotnya, proses pengambilan keputusan memilih sesorang itu tidak selamanya dipengaruhi oleh pengetahuan pemilih tentang program-program partai maupun oleh informasi-informasi yang membangun brand politik.
Proses memilih itu bisa jadi dipengaruhi kuat oleh impression (keterkesanan) dan nonrational evaluation criteria (kriteria yang tidak rasional yang dipakai pemilih dalam mengevaluasi para kandidat/parpol).
Maka itu, para calon kandidat presiden sekarang ini lagi pada nebar impresi ke tengah masyarakat. ***
Artikel Terkait
Tahun 2024 Masih Lama. Sudah Ada Yang Deklarasi Capres!
Menko Airlangga Blusukan ke Kampung UMKM Kuliner, Dikenalkan sebagai Capres
Kritik Deklarasi Ganjar Capres, Ketua DPC PDI-P Kebumen: Banteng Selalu dalam Barisan
Partai Gerindra Jateng Deklarasikan Prabowo Subianto Menjadi Capres 2024
Anggota KPU dan Bawaslu periode 2022-2027 Terpilih Ditetapkan DPR. Sama dengan yang Beredar di WA Sebelumnya
Jokowi: Pemilu Dilaksanakan 14 Pebruari 2024, Pilkada November 2024, Sudah Jelas Semua!
KPU Gelar Rapat Pleno, Tetapkan Ketua, Divisi dan Korwil. Hasyim Asy'ari Pimpin KPU