opini

"ANTARA ANKARA DAN PENAJAM" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Minggu, 6 Februari 2022 | 15:47 WIB
Patung dan Monumen Mustafa Kemal Atarturk di Ulus Square, Ankara, Turki (Foto: Trias Kuncahyono)

Terbersit pertanyaan dalam benakku: Mengapa Mustafa Kemal memindahkan ibu kota Turki dari Istanbul ke Ankara? Bukankah Istanbul, sebagai kota, lebih besar, lebih menarik, dan lebih strategis dibandingkan Ankara.

Di selatan Istanbul terbentang Laut Marmara, dan di utara Laut Hitam. Bagian barat kota ada di Eropa, dan bagian timur ada di Asia. Istanbul adalah sebuah kota yang menyatukan dua benua.

Istanbul dibelah Selat Bosphorus. Sebagai pelabuhan, kota ini merupakan kota Asia terdekat dengan Eropa dan kota Eropa terdekat dengan Asia. Pentingnya Istanbul bertumpu pada kepentingan strategisnya dalam arti komersial.

Baca Juga: Sijebol, Sistem Jemput Bola, Layani Khusus Tunggakan Pajak Kendaraaan, di Polres Kulonprogo Februari 2022

Bukankah, Istanbul yang saat itu berpenduduk sekitar satu juta orang, memiliki makna historis—pernah menjadi ibu kota tiga kekaisaran: Romawi (330-1261) Bysantium (1261-1453), dan Ottoman (1453-1922)—ketimbang Ankara yang ada di tengah Anatolia (Asia Kecil) jauh dari laut dan dikepung pegunungan?

Tetapi, setelah PD I (1914-1918), sebagian besar wilayah Kesultanan Ottoman diduduki oleh Kekuatan Sekutu (Entente) yakni koalisi Perancis, Inggris, Rusia, Italia, Jepang, dan AS.

Mereka menghadapi Kekuatan Sentral dari Jerman, Austria-Hongaria, Ottoman, Bulgaria dan koloni-koloni mereka. Bahkan pasukan Sekutu menduduki juga Istanbul ibu kota Ottoman.

Baca Juga: Liga Serie A Italia: Olivier Giroud Menangkan AC Milan dalam Derbi Della Madonnina

Ketika itu, para politisi Turki, termasuk Mustafa Kemal, memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Ankara. Setelah Sekutu mengakiri pendudukannya, pusat pemerintahan tidak dikembalikan ke Istanbul, tetapi tetap Ankara.

Mereka berpendapat, Istambul adalah ibu kota Kasultanan Ottoman. Istanbul simbol Ottoman. Mustafa Kemal dan para pendukungnya memutuskan bahwa negara baru—Republik Turki—harus memiliki simbol baru, cara hidup baru, pandangan hidup baru.

Mustafa Kemal melihat bahwa masyarakat Ottoman pasca PD I, mengalami kemunduran, baik secara politik, sosial, maupun kultural. Untuk dapat menegaskan diri di antara negara-negara lain, terutama Eropa, perlu ada perubahan radikal.

Baca Juga: TERBARU, Inilah Daftar 62 Rumah Sakit di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Menerima BPJS

Bangsa Turki harus setara dengan bangsa Eropa secara sosial, pendidikan, dan kultural serta menjadikan Turki sebagai bagian komunitas internasional bangsa-bangsa moderen.

Bagi mereka, kaum Kemalis, Turki harus bertransformasi menjadi negara bangsa modern yang menurut Mustafa Kemal “hidup sebagai bangsa yang maju dan beradab di tengah peradaban kontemporer.”

Bangsa seperti itu harus sekular dan rasional, menekankan sains dan pendidikan modern untuk menciptakan ekonomi industri modern (Feroz Ahmad, 1993).

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB