Menurut Ratzel, bangsa adalah kelompok manusia yang terbentuk karena adanya hasrat (kemauan) untuk bersatu yang timbul dari adanya rasa kesatuan antara manusia dan tempat tinggalnya.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Menjadi Inspektur Upacara Sekaligus Pamitan Kepada Warga Jateng
***
Karena itu, Bung Karno berpendapat, bangsa atau kebangsaan tidak diasalkan dari kesamaan etnis, ras, atau agama, melainkan kolektivitas sosiologis yang terbentuk berdasarkan kehendak orang-orangnya.
Dari sinilah, Bung Karno lalu mengatakan, "Menurut jalan pikiranku, kemerdekaan bagi kemanusiaan meliputi juga kemerdekaan beragama." ( Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat lndonesia, 2014, 88).
Negara merdeka menurut Bung Karno, juga meliputi kemerdekaan untuk beragama serta memiliki sistem pemerintahan pro rakyat
Baca Juga: Petani Wonosari Gelar Ritual Wiwit Mbako Tanda Dimulainya Panen Tembakau
Dalam amanatnya pada Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1954, Bung Karno mengatakan, sikap toleransi tentu saja tidak akan mengurangi keimanan bagi siapapun dengan apapun agama yang dipeluknya.
Bahkan toleransi semakin menguatkan jati diri seseorang yang melakukanya.
Berangkat dari roh yang menggerakkan kemerdekaan—kehendak untuk bersatu—Bung Karno menegaskan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. la mengajak segenap bangsa Indonesia bersatu.
Kata Bung Karno, "kesatuan hati pemimpin dan rakyat Indonesia", adalah sangat penting. Ini sebagai gagasan utamanya. Seorang pemimpin, hatinya harus bersatu dengan hati segenap rakyat Indonesia. Persatuan dan kesatuan adalah hal mutlak yang dibutuhkan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia
DIRGAHAYU ke-78 REPUBLIK INDONESIA
Baca Juga: Soal Timnas Tanggung Jawab Semua Pihak, Klub Harus Relakan Pemain untuk Timnas
***
Tetapi Bung Karno mengingatkan, saat berpidato pada tanggal 1 Juni 1945, merdeka hanyalah sebuah jembatan. Walaupun jembatan emas. Sebab, di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis!
Itu berarti bahwa kemerdekaan dari tangan penjajah bukan akhir perjuangan. Tetapi justru awal perjuangan yang tidak ringan. Seperti kata Bung Karno, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri."