Sekarang ini, sudah bermunculan para saudagar politik (termasuk juga makelar dan tengkulak politik) baik yang kecil, menengah, maupun besar. Mereka menggelar obral politik—entah itu politik identitas, politik agama, politik etnis, maupun politik sakit hati— di mana-mana.
Baca Juga: Everton bertahan di Liga Premier Inggris 70 tahun berturut-turut setelah menang di laga terakhir
Mereka itu beda, bahkan sangat berbeda dengan para saudagar di Surabaya yang saya temui: yang mereka jual adalah hasil produksi pabrik mereka. Ada kopi. Ada kerupuk udang. Ada sambal. Ada furniture. Ada emas batangan dan perhiasan emas. Ada perlengkapan rumah tangga: dari ember sampai seterika, dari kipas angin sampai kulkas.
Dad pertemuan itu, saya tahu bagaimana para saudagar itu menerjemahkan makna kata pahlawan yang menjadi julukan Kota Surabaya, tanpa bikin gaduh seperti para saudagar politik.***
Sumber: https://triaskredensialnews.com/kredensial/ketemu-saudagar-1/