ARTIFICIAL INTELLIGENCE TAK MEMBUNUH PENULIS, TAPI MENGUBAHNYA
Oleh Denny JA
TITIKTEMU.CO - Di sudut Jalan Buah Batu, Bandung, berdiri sebuah toko buku yang menjadi saksi bisu perjalanan literasi kota itu.
Togamas Buah Batu bukan sekadar tempat berjualan buku. Ia rumah bagi para pelajar pencari buku ujian, orang tua yang membelikan dongeng, dan penulis yang ingin melihat bukunya berpindah dari rak ke tangan pembaca.
Dengan etalase sederhana dan diskon yang menggoda, Togamas menemani generasi pembaca selama puluhan tahun. Namun, pada April 2024, pintu itu tertutup untuk selamanya.
Baca Juga: Pekerjaan yang Terancam Punah Akibat AI: Siapkah Anda?
Mereka berpamitan di Instagram:
“Kami dari segenap keluarga besar Togamas Buah Batu izin pamit. Terima kasih kepada seluruh pelanggan setia yang telah mempercayai kami sebagai toko buku kesayangan kalian.”
Bukan hanya Togamas. Toko Buku Gunung Agung—ikon retail literasi Indonesia sejak 1953—juga resmi menutup seluruh gerainya pada akhir 2023, tak kuasa menahan beban kerugian.
Di balik pintu-pintu toko yang tertutup, ada kehilangan yang lebih besar: hilangnya ruang ketiga—tempat jiwa-jiwa berkumpul, berdiskusi, mencari inspirasi, dan menyembuhkan luka lewat kata.
Baca Juga: Live Action Lilo and Stitch Pecahkan Rekor Box Office, Salip Mission: Impossible
Kematian toko buku adalah gejala dari luka yang lebih dalam: bangkrutnya ekosistem literasi.
Survei Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) 2024 mencatat: 80% penulis hanya menerima royalti kurang dari Rp 2 juta per tahun. Sebagian bahkan tak sampai Rp 500 ribu.
Mereka menulis. Bukunya terbit. Namun hidupnya tak layak.