KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN
Oleh Denny JA
“Menulis puisi esai bukan hanya soal estetika. Ia panggilan nurani untuk menyuarakan ketidakadilan, keterasingan, dan marginalisasi.”
Bayangkan seseorang membuka lembar puisi, dan yang ia temukan bukan sekadar metafora, tapi juga catatan kaki.
Bukan hanya irama, tapi juga data sejarah. Bukan hanya suara penyair, tapi gema dari mereka yang selama ini dibungkam.
Baca Juga: KETIKA UNIVERSITAS HARVARD MEMILIH UNTUK MELAWAN PRESIDEN DONALD TRUMP
Di situlah puisi esai lahir—bukan hanya sebagai genre sastra baru, melainkan sebagai gerakan kultural yang perlahan menjelma menjadi suara kolektif sebuah zaman.
Empat kitab serial Angkatan Puisi Esai yang disusun antara 2012 hingga 2024, bukan sekadar antologi.
Ia adalah kesaksian kolektif, catatan luka dan harapan, yang ditulis dengan cara baru—dan untuk mengingat dengan cara baru pula.
Baca Juga: Profil Paus Leo XIV: Paus Pertama dari Amerika Serikat yang Memimpin Gereja Katolik
Kitab 1: Kelahiran dan Masa-Masa Awal (2012–2014)
Kitab ini menandai kelahiran puisi esai sebagai bentuk yang tak lazim. Atas Nama Cinta—yang saya tulis sendiri—menjadi tonggak awalnya.
Tema diskriminasi etnis, agama, dan gender menjadi nyala awal yang membakar jalan baru. Penulisnya tak hanya penyair, tetapi juga akademisi, aktivis, dan jurnalis—mereka yang membawa pengalaman langsung dari medan sosial.
Kitab 2: Menuju Indonesia (2015–2019)