KETIKA UNIVERSITAS HARVARD MEMILIH UNTUK MELAWAN PRESIDEN DONALD TRUMP

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 25 Mei 2025 | 11:16 WIB
Universitas Harvard, Boston, Amerika Serikat (maathiildee.com)
Universitas Harvard, Boston, Amerika Serikat (maathiildee.com)

Pertama, karena universitas bukan alat negara. Ia harus bebas dari tekanan politik agar tetap menjadi penjaga nurani dan pencari kebenaran—meskipun kebenaran itu menyakitkan bagi penguasa.

Kedua, karena jika kekuasaan boleh menentukan siapa yang boleh belajar dan siapa yang layak bicara, kita sedang menghidupkan kembali masa ketika buku dibakar, guru dibungkam, dan ilmu dijadikan pelayan ideologi.

Ketiga, karena rasa takut tak boleh tumbuh di ruang belajar. Jika kampus berubah menjadi ruang interogasi, maka generasi masa depan akan tumbuh dalam ketakutan, bukan dalam kebijaksanaan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Siapkan Calon Dubes RI untuk AS, Empat Nama Masuk Radar

Sejarah sebagai Cermin Peringatan

Sejarah telah membuktikan bahwa setiap upaya membungkam kampus berakhir dengan kehancuran peradaban.

Pada era McCarthyisme 1950-an, pemerintah AS memaksa universitas mengungkapkan ‘simpatisan komunis.” Itu berujung pada pemecatan profesor, sensor kurikulum, dan hilangnya kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan.

Pada 1953, di tengah histeria anti-komunis McCarthyisme, University of New Hampshire (UNH) menjadi simbol perlawanan akademik.

Pemerintah AS memaksa universitas memecat tiga profesor
-Barrows Dunham (filsuf), H. Chandler Davis (matematikawan), dan Mark Nickerson (farmakolog)-karena diduga
"simpatisan komunis."

Baca Juga: KORPRI Usul Batas Usia Pensiun ASN, Ada Yang Bisa Purna Tugas Sampai Usia 70 Tahun!

UNH menolak, bahkan ketika ancaman pemotongan dana federal mengintai. Asosiasi Profesor Amerika (AAUP) mendukung perlawanan ini dengan argumen.

“Jika negara boleh memecat dosen hanya karena pandangan politiknya, maka universitas akan menjadi museum ideologi, bukan ruang pencarian kebenaran."

Kasus ini menjadi preseden hukum yang melindungi kebebasan akademik di AS hingga hari ini.

Di Tiongkok, Revolusi Kebudayaan 1966-1976 menghancurkan universitas sebagai ‘sarang intelektual borjuis.” Ia menggantikan riset dengan indoktrinasi politik.

Baca Juga: Update Jadwal Seleksi PPPK Tahap II Tahun 2024 BKN Terbaru, Cek Detailnya di Sini!

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Redaksi TITIKTEMU

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X