Pertama, karena universitas bukan alat negara. Ia harus bebas dari tekanan politik agar tetap menjadi penjaga nurani dan pencari kebenaran—meskipun kebenaran itu menyakitkan bagi penguasa.
Kedua, karena jika kekuasaan boleh menentukan siapa yang boleh belajar dan siapa yang layak bicara, kita sedang menghidupkan kembali masa ketika buku dibakar, guru dibungkam, dan ilmu dijadikan pelayan ideologi.
Ketiga, karena rasa takut tak boleh tumbuh di ruang belajar. Jika kampus berubah menjadi ruang interogasi, maka generasi masa depan akan tumbuh dalam ketakutan, bukan dalam kebijaksanaan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Siapkan Calon Dubes RI untuk AS, Empat Nama Masuk Radar
Sejarah sebagai Cermin Peringatan
Sejarah telah membuktikan bahwa setiap upaya membungkam kampus berakhir dengan kehancuran peradaban.
Pada era McCarthyisme 1950-an, pemerintah AS memaksa universitas mengungkapkan ‘simpatisan komunis.” Itu berujung pada pemecatan profesor, sensor kurikulum, dan hilangnya kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan.
Pada 1953, di tengah histeria anti-komunis McCarthyisme, University of New Hampshire (UNH) menjadi simbol perlawanan akademik.
Pemerintah AS memaksa universitas memecat tiga profesor
-Barrows Dunham (filsuf), H. Chandler Davis (matematikawan), dan Mark Nickerson (farmakolog)-karena diduga
"simpatisan komunis."
Baca Juga: KORPRI Usul Batas Usia Pensiun ASN, Ada Yang Bisa Purna Tugas Sampai Usia 70 Tahun!
UNH menolak, bahkan ketika ancaman pemotongan dana federal mengintai. Asosiasi Profesor Amerika (AAUP) mendukung perlawanan ini dengan argumen.
“Jika negara boleh memecat dosen hanya karena pandangan politiknya, maka universitas akan menjadi museum ideologi, bukan ruang pencarian kebenaran."
Kasus ini menjadi preseden hukum yang melindungi kebebasan akademik di AS hingga hari ini.
Di Tiongkok, Revolusi Kebudayaan 1966-1976 menghancurkan universitas sebagai ‘sarang intelektual borjuis.” Ia menggantikan riset dengan indoktrinasi politik.
Baca Juga: Update Jadwal Seleksi PPPK Tahap II Tahun 2024 BKN Terbaru, Cek Detailnya di Sini!
Artikel Terkait
Rumah Rp 129 Miliar Paris Hilton Musnah, Jadi Salah Satu Korban Kebakaran di Los Angeles, Amerika Serikat
TikTok Diblokir di Amerika Serikat, Warganet AS Beralih ke Aplikasi RedNote, Yang Juga Buatan China
Hanya Beberapa Jam Setelah Donald Trump Dilantik jadi Presiden, AS Putuskan Keluar dari Anggota WHO, Ini Alasannya
Donald Trump Hentikan Bantuan Medis Obat, Ancaman HIV/AIDS, Malaria, dan TBC Diprediksi Meningkat Pesat
Trump Ingin Gaza Jadi "Riviera Timur Tengah": Reaksi Dunia, Kecaman dan Penolakan
Donald Trump vs Xi Jinping: Perang Dagang AS-China 2025 Memanas, Tarif Naik dan Kesepakatan Belum Jelas
Profil Paus Leo XIV: Paus Pertama dari Amerika Serikat yang Memimpin Gereja Katolik
Genjatan Senjata India dan Pakistan yang Sempat Diumumkan Trump Berujung Kegagalan karena Pelanggaran