***
Tetapi, Bung Karno tetap "memilih" Omah Petroek sebagai "tempat keberadaannya," sebagai "tempat kediamannya." Mungkin, Omah Petroek dipilih karena selaras dengan sifat, kepribadian "sang pemilik", Petroek Kanthong Bolong.
Baca Juga: Presiden Yakini TMII Jadi Ikon Besar Pariwisata Jakarta
Petroek adalah punakawan, abdi, wong cilik, gedibal. Punakawan berasal dari kata pana yang memiliki arti cerdik, jelas, terang, dan cermat dalam pengamatan, serta kawan yang memiliki arti teman atau sahabat.
Punakawan disini berarti teman atau sahabat (pamong) yang sangat cerdik, dapat dipercaya serta mempunyai pandangan yang luas, memiliki pengamatan yang tajam dan cermat. Dalam Bahasa Jawa dikenal dengan istilah tanggap ing sasmita lan impad pasanging grahita yang berarti peka dan peduli terhadap berbagai permasalahan
Baca Juga: Puluhan Difabel Memberikan Persembahan Terakhir Juga Salam Perpisahan Untuk Ganjar
Maka kata ki dalang, Petroek adalah abdi yang bisa momong, momot, momor, mursid, lan murakabi.
Momong, artinya bisa mengasuh, menjadi pemomong. Seorang pemomong antara lain harus memiliki sifat sabar dan mau mendengarkan.
Momot, berarti dapat memuat segala keluhan tuannya, dapat merahasiakan masalah. la ibarat kata menjadi "keranjang sampah." Menerima semua keluhan bukan justru mengeluh.
Baca Juga: Ini Dia Wisata Keluarga Jika Pergi Ke Semarang
Momor, artinya tidak sakit hati ketika dikritik dan tidak mudah bangga kalau disanjung. Dalam bahasa anak muda sekarang disebut tidak baperan, senang mendapat tepuk tangan.
Mursid, artinya pintar sebagai abdi, mengetahui kehendak tuannya; tidak justru minteri atau merasa lebih pintar. Dan, murakabi, artinya bermanfaat bagi sesama. Artinya, keberadaannya berguna bagi banyak orang tidak hanya bagi sekelompok kecil atau kelompoknya sendiri.
Baca Juga: Erling Haaland makin gacor! Cetak tiga gol yang membuat Manchester City kembali ke puncak klasemen
***
Kiranya, Bung Karno demikian juga. Meski Bung Karno adalah tokoh besar, pemimpin besar tapi pemimpin bangsa yang sangat merakyat. Kata Bung Karno, "Saya ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Saya besar karena rakyat, berjuang karena rakyat, dan saya penyambung lidah rakyat" (Cindy Adams)
Artikel Terkait
BULAN DI ATAS OMAH PETROEK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Dari Ende, Presiden Jokowi Ajak Masyarakat Membumikan Pancasila
'PECI BUNG KARNO' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Halte Gelora Bung Karno Beroperasi Kembali setelah Direvitalisasi. Kapasitas Lebih Besar Dibanding Sebelumnya
Ganjar Ditugaskan sebagai Capres dari PDIP, Megawati Beri Mandat Puan Maharani untuk Pemenangan Pilpres
'Visi-Aktualisasi Pancasila' Oleh: Yudi Latif, Pengurus Aliansi Kebangsaan