Seusai salat, jenazah kemudian ditempatkan dalam keranda khusus berhiaskan kain mori putih, simbol kesucian dan keikhlasan melepas sang raja ke alam baka.
Naik 500 Anak Tangga Menuju Kedhaton
Tahapan berikutnya menjadi salah satu bagian paling sakral dan berat dalam prosesi pemakaman raja-raja Mataram, yaitu pengangkatan jenazah ke Kedhaton, makam utama tempat para raja dimakamkan.
Untuk mencapai Kedhaton PB X, tempat PB XIII akan disemayamkan, rombongan harus menaiki hampir 500 anak tangga.
Jalur ini dikenal sebagai jalur spiritual menuju puncak, yang melambangkan perjalanan arwah raja dari dunia fana menuju alam keabadian.
“Setiap raja yang wafat akan menuju alam baka. Tangga tinggi ini memiliki filosofi bahwa raja menaiki puncak gunung, dari dunia bawah menuju dunia atas,” ujar KPH Djoyo Adilogo.
Lebih dari 20 orang abdi dalem mengangkat keranda secara bergantian. Masing-masing menjalankan tugas dengan penuh hormat dan tanggung jawab, mengiringi untuk yang terakhir kali sang raja menuju peristirahatan abadi.
Baca Juga: Ini Pesan Sri Sultan HB X Soal Regenerasi Keraton Solo
Prosesi Pemakaman di Kedhaton PB X
Setibanya di puncak, rombongan berhenti untuk beristirahat. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan upacara adat penyerahan terakhir dan pembacaan doa.
PB XIII dimakamkan di samping ayahandanya, PB XII, di kompleks Kedhaton PB X. Menurut KPH Djoyo, lokasi pemakaman PB XIII bersifat sementara karena pembangunan kompleks Kedhaton PB XIII belum rampung.
“Kedhaton baru untuk PB XIII ditargetkan selesai akhir tahun ini. Nantinya, jika sudah siap, jenazah akan dipindahkan ke tempat yang sudah disiapkan di sebelah barat Kedhaton PB X,” ujarnya.
Dalam tradisi Imogiri, setiap Kedhaton hanya berisi tiga raja. Karena itulah, pembangunan Kedhaton baru menjadi penting sebagai kelanjutan silsilah raja-raja Surakarta.
Baca Juga: Silsilah Lengkap Pakubuwana XIII: Garis Keturunan, Istri, dan Putra Mahkota Penerus Tahta
Filosofi dan Makna Imogiri bagi Mataram