TITIKTEMU.CO-Kalau belakangan Anda merasa pilihan penerbangan AirAsia dari Indonesia semakin terbatas, ternyata itu bukan sekadar perasaan. Dalam beberapa bulan terakhir, maskapai berbiaya rendah ini diam-diam memangkas sejumlah rute internasional yang sebelumnya cukup populer di kalangan wisatawan maupun pelaku perjalanan bisnis.
Hingga pertengahan 2026, setidaknya ada lima rute internasional yang tidak lagi beroperasi. Keputusan ini bukan tanpa alasan. AirAsia sedang melakukan penyesuaian besar pada jaringan penerbangannya di tengah biaya operasional yang terus membengkak dan perubahan perilaku pasar yang membuat beberapa rute tidak lagi seefisien dulu.
Salah satu rute yang paling menyita perhatian adalah penerbangan langsung Jakarta–Singapura. Mulai 1 Juli 2026, layanan ini resmi dihentikan. Artinya, penumpang yang ingin terbang ke Singapura menggunakan AirAsia kini harus transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur.
Perubahan ini cukup signifikan. Jika sebelumnya perjalanan hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam, kini total durasi perjalanan bisa membengkak menjadi lebih dari 10 jam tergantung lamanya transit. Bagi sebagian pelancong, efisiensi waktu yang selama ini menjadi daya tarik utama tentu ikut berkurang.
Menurut manajemen AirAsia, keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi pengalihan kapasitas ke rute-rute yang dianggap memiliki performa lebih baik. Selain itu, lonjakan harga bahan bakar pesawat atau avtur yang dipicu ketidakstabilan geopolitik global turut memberikan tekanan besar pada industri penerbangan.
Tak hanya Singapura yang terdampak. Dua rute populer dari Bali menuju Australia juga ikut masuk daftar penghentian. AirAsia resmi menutup penerbangan Denpasar–Melbourne dan Denpasar–Adelaide sejak 19 Juni 2026.
Bali selama ini dikenal sebagai salah satu gerbang utama wisatawan Australia ke Indonesia. Namun tingginya biaya operasional membuat maskapai harus lebih selektif dalam menentukan rute yang tetap dipertahankan.
Manajemen Indonesia AirAsia menjelaskan bahwa kondisi industri penerbangan global saat ini sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kenaikan harga avtur menjadi salah satu faktor terbesar yang memengaruhi keberlanjutan operasional sejumlah rute internasional.
Dengan situasi tersebut, perusahaan memilih fokus pada jalur penerbangan yang dinilai masih memiliki tingkat permintaan dan profitabilitas yang cukup kuat. Langkah ini dianggap sebagai upaya menjaga kesehatan bisnis di tengah ketidakpastian pasar.
Rute lain yang juga ikut dihentikan adalah Darwin–Denpasar. Berbeda dengan kasus sebelumnya yang lebih banyak dipengaruhi biaya operasional, penghentian jalur ini lebih terkait dengan tingkat permintaan penumpang yang belum memenuhi ekspektasi.
Maskapai menilai jumlah penumpang pada rute tersebut belum cukup untuk mendukung operasional jangka panjang. Meski begitu, AirAsia tidak menutup kemungkinan untuk mengaktifkan kembali layanan tersebut apabila kondisi pasar menunjukkan perbaikan di masa depan.
Artikel Terkait
IG Sondang Friskha Simanjuntak: Komisioner Komnas Perempuan yang Viral di Media Sosial
Resmi Diluncurkan, Logo dan Identitas HUT Ke-81 RI Bawa Semangat dalam Keberagaman
Baru Tayang 2 Episode, Drama So Ji-sub Ini Langsung Pecahkan Rekor yang Tak Tersentuh 5 Tahun
Hakim MK Sampai Angkat Bicara: Kenapa Mahasiswa Diingatkan Jangan Asal Gugat ke Mahkamah Konstitusi?
Rp 30 Juta Habis untuk Baris-Berbaris? Usulan Penghapusan Latsarmil Kopdes Buka Perdebatan Baru
Kenapa Profesional Bergelar Tinggi Mulai Memilih Hidup di Kota Kecil?
5 Tahun Lagi Jakarta Akan Seperti Apa? Ini Proyeksi Ilmiahnya