Kritik dari Akademisi dan Pengamat Politik
Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, juga angkat suara lewat unggahan Instagram yang menyoroti “topeng pahlawan” para pejabat.
Dia mempertanyakan ketulusan aksi-aksi yang terlihat dramatis itu. Menurut Rhenald, para pejabat seharusnya hadir sebagai pengayom, bukan pemeran utama dalam video dramatik.
Pengamat politik dari Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai kecenderungan pejabat memanfaatkan bencana sebagai panggung politik adalah bukti rendahnya empati.
“Mereka seolah peduli, padahal apa yang terjadi adalah hasil dari kegagalan mereka sendiri dalam mengelola kebijakan,” ujarnya.***
Artikel Terkait
Ketika Danau Singkarak Jadi Jernih Seperti Sungai Swiss Usai Banjir Bandang, Apa yang Terjadi?
Air Mata di Nagatimbul: Kisah Seorang Anak Kehilangan Ayah dalam Longsor Tapanuli
Donasi Mengalir untuk Sumatera-Aceh, Tapi Distribusi Tidak Pernah Mudah
Jejak Hutan di Balik Nikmatnya Secangkir Kopi Gayo
Umrah Saat Banjir, Bupati Aceh Selatan Dicopot sebagai Ketua DPC Gerindra
Patungan Beli Hutan: Ketika Negara Abai Pembalakan, Frustasi Menumpuk, dan Masyarakat yang Tak lagi Percaya
Umrah Saat Bencana, Prabowo Minta Mendagri Copot Bupati Mirwan