Air Mata di Nagatimbul: Kisah Seorang Anak Kehilangan Ayah dalam Longsor Tapanuli

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Jumat, 5 Desember 2025 | 20:08 WIB
Air Mata di Nagatimbul: Kisah Rita yang Kehilangan Ayah dalam Tragedi Longsor Tapanuli (Instagram @bobbynst)
Air Mata di Nagatimbul: Kisah Rita yang Kehilangan Ayah dalam Tragedi Longsor Tapanuli (Instagram @bobbynst)

TITIKTEMU.CO - Tragedi longsor yang melanda wilayah Tapanuli Utara akhir November 2025 menyisakan luka bagi banyak keluarga.

Salah satunya adalah Rita Panggabean (22), mahasiswi Akper Tarutung asal Desa Nagatimbul, Kecamatan Sitahuis, yang kehilangan ayahnya

Tragisnya lagi, Rita baru mengetahui kabar duka itu empat hari setelah kejadian karena listrik padam dan jaringan komunikasi terputus total.

Baca Juga: Ketika Danau Singkarak Jadi Jernih Seperti Sungai Swiss Usai Banjir Bandang, Apa yang Terjadi? 

Rita, dari cerita yang dia dengar, pada Selasa 25 November 2025, longsor menerjang Desa Mompang. Ayahnya, seorang pengurus gereja HKBP, ikut membantu warga yang terdampak.

Namun, nasib berkata lain. Longsor susulan terjadi dan menimbun tubuhnya. Rita yang tinggal di asrama kampus tidak mengetahui apa pun.

Seorang tetangga rela berjalan kaki ke Tarutung untuk menyampaikan kabar itu. Namun, baru pada Jumat 28 November 2025, Rita menerima kabar ayahnya telah meninggal.

Baca Juga: Hikayat Kopi di Tanah Gayo: Warisan Tradisi dan Ketekunan dari Ujung Barat Nusantara 

Perjalanan 2,5 Jam Menembus Hutan

Begitu mengetahui ayahnya menjadi korban dan belum ditemukan, Rita bersama bibi, abang, dan saudara ayahnya pulang pada Minggu 30 November 2025.

Perjalanan hanya bisa dilakukan dengan sepeda motor hingga Desa Parsingkaman. Dari desa itu, mereka selanjutnya berjalan kaki selama 2,5 jam melewati hutan dan tumpukan material longsor.

Selain ingin melihat kondisi keluarga, mereka membawa sembako karena mendengar pasokan pangan di desa sudah menipis.

Namun, setiba di kampong halaman, Rita hanya bisa menemukan makam ayahnya. Jenazah sang ayah sudah dimakamkan karena kondisi wajah tidak lagi dapat dikenali saat ditemukan.

Baca Juga: Tanggap Bencana Sumut-Sumbar, BRI Salurkan Bantuan Untuk Percepat Pemulihan Warga yang Terdampak

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X