Gusti Moeng menilai pengangkatan Gusti Purbaya melanggar paugeran, yaitu aturan adat yang mengatur tata cara pewarisan takhta.
Dia mempermasalahkan status ibunda Purbaya, Asih Winarni, yang disebut-sebut tidak memenuhi syarat sebagai permaisuri sejati karena bukan dinikahi dalam status bhayangkari.
Meskipun begitu, kubu PB XIII tetap bersikukuh bahwa penobatan Gusti Purbaya sah secara adat dan spiritual.
Bagi pendukungnya, pengangkatan ini langkah penting untuk menjaga keberlangsungan institusi keraton sekaligus menghindari konflik perebutan tahta seperti yang terjadi setelah wafatnya PB XII pada 2004.
Baca Juga: Raja Surakarta Paku Buwono XIII, 21 Tahun Bertahta yang Penuh Konflik
Belajar Hukum dan Aktif di Keraton
Gusti Purbaya dikenal sebagai sosok muda yang berpendidikan. Saat dinobatkan menjadi putra mahkota pada 2022, dia masih masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip).
Di sela kesibukan kuliah, dia kerap tampil di berbagai kegiatan keraton dan acara kebudayaan. Keterlibatan ini sebagai bentuk tanggung jawab dan kesiapannya sebagai calon penerus takhta.
Kontroversi Gusti Purbaya
Namun perjalanan karier Gusti Purbaya tidak selalu mulus. Dia Ssempat menjadi perbincangan di media sosial karena unggahannya di story Instagram.
Di akun pribadi @kgpaa.hamangkunegoro, dia menuliskan ‘Nyesel Gabung Republik’ dengan background hitam.
Pihak Keraton langsung memberi tanggapan melalui Pengageng Sasana Wilapa Keraton Solo, Kanjeng Pangeran Arya (KPA) Dany Nur Adiningrat.
Dia mengklarifikasi bahwa unggahan Gusti Purbaya merupakan bentuk kritik terhadap pemerintah, terutama mengenai isu-isu terkini. Misalnya, kasus Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dioplos (2018-2023).
“Beliau sebagai anak bangsa, sebagai calon penerus dari pemimpin Jawa, Keraton, beliau adalah keturunan pahlawan Paku Buwono (PB) 10, PB 6, PB 12 yang tentara juga,” ujar Dany.
Baca Juga: Raja Solo Sinuhun Pakubuwono XIII Wafat, Keraton Surakarta Berduka
Artikel Terkait
Perjanjian Salatiga, Akhir Perlawanan Pangeran Sambernyawa
Ken Dedes, Perempuan yang Menurunkan Raja-raja di Jawa?
Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram
Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III
Keris Mpu Gandring, Ken Arok, dan Pertumpahan Darah di Kerajaan Singasari
Gayatri Rajapatni, Perempuan Agung di Balik Kejayaan Majapahit