TITIKTEMU.CO - Sejarah berdirinya Keraton Surakarta tidak bisa dilepaskan dari sosok Pakubuwana III. Dia naik takhta dalam usia muda, di tengah kondisi kerajaan yang goyah dan tekanan Belanda.
Masa pemerintahannya menjadi titik balik sejarah Jawa: Mataram Islam terbelah, dan kemudian lahirnya kerajaan-kerajaan baru akibat campur tangan VOC.
Semua berawal dari Pakubuwana II yang sakit parah pada akhir tahun 1749, ditambah perang saudara, pemberontakan, dan tekanan dari Belanda membuat kerajaan hampir kehilangan kendali atas wilayahnya.
Baca Juga: Begini Duduk Perkara Klaim Tahta Keraton Surakarta antara Putra Mahkota dan Maha Menteri
Di tengah situasi genting itu, sang raja memutuskan untuk menyerahkan takhtanya kepada putra mahkota, Raden Mas Soerjadi, yang ketika itu baru berusia 17 tahun.
Penobatan berlangsung pada 15 Desember 1749. Lima hari kemudian, Pakubuwana II wafat. Raden Mas Soerjadi pun naik takhta sebagai Pakubuwana III.
Dialah raja pertama Keraton Kasunanan Surakarta, sekaligus penguasa Jawa yang pelantikannya dilakukan langsung oleh pejabat VOC.
Baca Juga: Berebut Tahta Keraton Surakarta: Tedjowulan vs Putra Mahkota, Siapa Penerus Sah PB XIII?
Kekuasaan di Bawah Kendali Belanda
Sejak awal pemerintahannya, Pakubuwana III menghadapi tekanan berat. Kerajaannya baru saja pindah ke Surakarta dari kehancuran Kartasura, dan mewarisi hubungan yang rumit dengan Belanda.
Semasa hidup, ayahnya, Pakubuwana II, telah menandatangani perjanjian di mana VOC memiliki pengaruh besar atas kerajaan Mataram.
Karena itu, salah satu bentuk kendali itu, penobatan Pakubuwana III sampai dilakukan Baron von Hohendorff, Gubernur VOC untuk wilayah pesisir Jawa.
Sejak saat itu, Keraton Surakarta tidak lagi sepenuhnya merdeka. Meski berstatus raja, Pakubuwana III sebenarnya hanyalah penguasa simbolik di bawah kendali Belanda.
Dalam usia yang masih muda dan tanpa pengalaman politik yang matang, ia lebih memilih bersikap aman. Dukungan VOC memberinya rasa perlindungan, sekaligus membuatnya semakin bergantung pada Belanda.