Saat Belanda mulai mengetahui potensinya, mereka pun menebar mitos untuk menakut-nakuti penduduk: bahwa kopi bisa menjadi bahan peledak, membuat rambut memutih, bahkan menyebabkan kekafiran.
Masyarakat Gayo pun dibiarkan tidak memahami nilai sebenarnya dari buah kopi yang tumbuh di sekitar mereka, buah yang sejatinya komoditas bernilai ekonomi.
Baca Juga: Java Preanger, Secangkir Kopi dari Jawa yang Mendunia
Baru pada awal 1900-an, setelah Belanda menduduki wilayah Gayo, kopi dikelola komersial. Jalan Bireuen–Takengon dibuka pada 1905 dan selesai 1911, menghubungkan dataran tinggi terpencil ini dengan pesisir Aceh.
Perkebunan pertama didirikan di Paya Tumpi pada 1920, menyusul pabrik pengolahan dan asrama untuk para pekerja perkebunan mulai dibangun.
Kisah lain dari tradisi lokal menyebut seorang haji bernama Aman Kawa yang membawa bibit kopi dari Makkah jauh sebelum kolonial datang, lalu menanamnya di Kampung Daling.
Terlepas dari versi mana yang lebih kuat, keduanya menunjukkan bahwa kopi sebenarnya sudah lama mengakar dalam ingatan masyarakat Gayo.
Pada 1929, ekspor kopi Gayo untuk pertama kalinya menembus pasar Eropa. Dalam satu dekade, nilai ekspornya melonjak hingga puluhan ribu Gulden.
Takengon dan sekitarnya berkembang menjadi pusat perdagangan, dilengkapi tata kota ala Eropa.
Belanda kemudian mendatangkan ribuan pekerja dari Jawa. Mereka membawa budaya baru, mulai dari bahasa, makanan, hingga seni pertunjukan, yang memperkaya demografi Gayo.
Baca Juga: Mengenal 7 Karakteristik Kopi Nusantara, dari Gayo hingga Papua Wamena
Masa Suram dan Kebangkitan Kembali
Ketika Jepang masuk pada 1942, perkebunan kopoi skala besar mulai terbengkalai. Pasca kemerdekaan, proses nasionalisasi terjadi secara unik: bekas lahan onderneming dibagikan kepada petani lokal.
Hasilnya, lebih dari 90 persen produksi kopi Gayo kini berasal dari perkebunan rakyat, dengan lahan rata-rata 0,5–1 hektare per keluarga.
Namun perjalanan tidak selalu mulus. Gayo berulang kali dihantam konflik: pemberontakan DI/TII, pergolakan politik 1965, hingga perang berkepanjangan antara GAM dan TNI dari 1976–2005.
Artikel Terkait
Dua Kabupaten di Sumatera Utara Nyatakan Tak Mampu Tangani Bencana, Prabowo Pastikan Negara Siap Menangani
Siapa Pemilik PT Toba Pulp Lestari? Sejarah dan Kontroversi Produsen Pulp di Sumatera Utara
Bupati Samosir Imbau Warga Tolak Bantuan dari Toba Pulp Lestari
Tanggap Bencana Sumut-Sumbar, BRI Salurkan Bantuan Untuk Percepat Pemulihan Warga yang Terdampak
Mengungkap Pemilik Allied Hill Limited: Sosok Joseph Oetomo di Balik Toba Pulp Lestari