Hikayat Kopi di Tanah Gayo: Warisan Tradisi dan Ketekunan dari Ujung Barat Nusantara

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Kamis, 4 Desember 2025 | 13:25 WIB
Hikayat Kopi di Tanah Gayo: Warisan Tradisi dari Ujung Barat Nusantara. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)
Hikayat Kopi di Tanah Gayo: Warisan Tradisi dari Ujung Barat Nusantara. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Saat Belanda mulai mengetahui potensinya, mereka pun menebar mitos untuk menakut-nakuti penduduk: bahwa kopi bisa menjadi bahan peledak, membuat rambut memutih, bahkan menyebabkan kekafiran.

Masyarakat Gayo pun dibiarkan tidak memahami nilai sebenarnya dari buah kopi yang tumbuh di sekitar mereka, buah yang sejatinya komoditas bernilai ekonomi.

Baca Juga: Java Preanger, Secangkir Kopi dari Jawa yang Mendunia  

Baru pada awal 1900-an, setelah Belanda menduduki wilayah Gayo, kopi dikelola komersial. Jalan Bireuen–Takengon dibuka pada 1905 dan selesai 1911, menghubungkan dataran tinggi terpencil ini dengan pesisir Aceh.

Perkebunan pertama didirikan di Paya Tumpi pada 1920, menyusul pabrik pengolahan dan asrama untuk para pekerja perkebunan mulai dibangun.

Kisah lain dari tradisi lokal menyebut seorang haji bernama Aman Kawa yang membawa bibit kopi dari Makkah jauh sebelum kolonial datang, lalu menanamnya di Kampung Daling.

Terlepas dari versi mana yang lebih kuat, keduanya menunjukkan bahwa kopi sebenarnya sudah lama mengakar dalam ingatan masyarakat Gayo.

Pada 1929, ekspor kopi Gayo untuk pertama kalinya menembus pasar Eropa. Dalam satu dekade, nilai ekspornya melonjak hingga puluhan ribu Gulden.

Takengon dan sekitarnya berkembang menjadi pusat perdagangan, dilengkapi tata kota ala Eropa.

Belanda kemudian mendatangkan ribuan pekerja dari Jawa. Mereka membawa budaya baru, mulai dari bahasa, makanan, hingga seni pertunjukan, yang memperkaya demografi Gayo.  

Baca Juga: Mengenal 7 Karakteristik Kopi Nusantara, dari Gayo hingga Papua Wamena

Masa Suram dan Kebangkitan Kembali

Ketika Jepang masuk pada 1942, perkebunan kopoi skala besar mulai terbengkalai. Pasca kemerdekaan, proses nasionalisasi terjadi secara unik: bekas lahan onderneming dibagikan kepada petani lokal.

Hasilnya, lebih dari 90 persen produksi kopi Gayo kini berasal dari perkebunan rakyat, dengan lahan rata-rata 0,5–1 hektare per keluarga.

Namun perjalanan tidak selalu mulus. Gayo berulang kali dihantam konflik: pemberontakan DI/TII, pergolakan politik 1965, hingga perang berkepanjangan antara GAM dan TNI dari 1976–2005.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X