Di sisi lain, rumor bahwa Pakubuwono IV tengah menyiapkan perang untuk menyatukan kekuasaan Mataram makin memperuncing keterbelahan politik.
Baca Juga: Suksesi Keraton Solo dari Masa ke Masa: Konflik Tak Berujung dalam Dinasti Mataram Surakarta
Isu Pembantaian yang Mengguncang Jawa
Pada tahun 1789, VOC menerima laporan yang menyebut Raja Surakarta ini sedang menyusun rencana pembunuhan massal terhadap warga Eropa di Jawa.
Residen VOC di Surakarta, Andries Hartsinck, bahkan digambarkan hadir dalam pertemuan rahasia di Keraton dengan mengenakan busana Jawa, yang semakin mencurigakan.
VOC lalu memerintahkan penyelidikan besar-besaran. Kekhawatiran Belanda meningkat, terutama karena Hamengkubuwono I dan Mangkunegara I sangat dekat dekat dengan VOC, sementara Paku Buwono tidak demikian.
Baca Juga: Jelang Jumenengan Pakubuwono XIV, Ini Deretan Kontroversi Gusti Purbaya
Celakanya, Kasultanan Yogyakarta dan Mangkunegaran justru mendukung VOC untuk menekan Kasunanan. Dukungan ini membuat VOC semakin berani melakukan tindakan keras.
Ketegangan memuncak pada November 1790 ketika Pasukan VOC, dibantu Yogyakarta dan Mangkunegaran, mengepung Keraton Surakarta. Peristiwa ini dikenal sebagai Pakepung.
Keraton dalam kondisi terisolasi. Para pejabat senior keraton yang sebagian besar pro-VOC ikut menekan Pakubuwono I. Mereka menuntut raja mencopot para penasihatnya karena dianggap mengancam stabilitas Mataram.
Pada 26 November 1790, Pakubuwono IV menyerah. Namun, dia tetap menjadi raja dengan syarat harus mengasingkan para penasihatnya dan menandatangani perjanjian yang memperkuat posisi VOC di Jawa.
Raja Religius yang Mewariskan Sastra Besar
Meski dibayangi konflik, masa pemerintahan Pakubuwono IV meninggalkan jejak budaya penting. Dukungannya yang besar kepada ulama membuat tradisi keagamaan di masa pemerintahannya berkembang.
Di tengah tekanan pada masa pemerintahannya, Paku Buwono masih sempat melahirkan karya sastra monumental: Serat Wulangreh, pedoman etika dan budi pekerti yang hingga kini masih menjadi rujukan moral masyarakat Jawa.
Artikel Terkait
Sejarah Keraton Surakarta, Paku Buwana III: Raja yang Berkuasa di Bawah Bayang-bayang Belanda
Raja Baru Keraton Surakarta: Gusti Purbaya Dinobatkan sebagai Paku Buwono XIV 15 November 2025
Suksesi Keraton Surakarta Memanas, Tedjowulan: Tahan Diri dan Hormati Pemerintah!
Putra Sulung PB XIII KGPH Mangkubumi: Jangan Buru-buru Suksesi, Ini Masih Masa Berkabung
Suksesi Keraton Surakarta Memanas! Gusti Mangkubumi Ditetapkan sebagai Paku Buwono XIV, Tidak Akui Deklarasi Gusti Purbaya
Raja Kembar Keraton Surakarta, Dua Kubu Sama-sama Klaim Gelar Paku Buwono XIV
Kisruh Takhta PB XIII: Hangabehi Mendadak Dinobatkan, Tedjowulan Kaget, Purboyo Kecewa?
Dua Pangeran, Satu Tahta: Gusti Purboyo dan Hangabehi Sama-Sama Dinobatkan Jadi Raja Solo