Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said Bersatu
Pada 1746, setelah permintaannya menjadi raja ditolak VOC, Pangeran Mangkubumi bergabung dengan Raden Mas Said. Keduanya membentuk aliansi melawan Pakubuwana II dan penjajahan Belanda.
Sebagai simbol kesetiaan, Mangkubumi menikahkan putrinya, Raden Ayu Inten, dengan Raden Mas Said. Selanjutnya, keduanya memimpin perlawanan gerilya dari hutan di barat Surakarta yang kelak dikenal sebagai Yogyakarta.
Pemberontakan ini membuat Surakarta kewalahan. Bahkan, tekanan dari pasukan mereka membuat Pakubuwana II jatuh , dan akhirnya meninggal pada Desember 1749.
Sebelum wafat, Pakubuwana II sempat menandatangani perjanjian dengan VOC yang memberi hak kepada Belanda untuk menentukan penerus takhta.
Maka, ketika Pakubuwana II mangkat, VOC dengan cepat menobatkan putra raja, Raden Mas Soerjadi, sebagai Pakubuwana III. Pada saat bersamaan, Mangkubumi sudah menobatkan dirinya sendiri dengan gelar serupa.
Baca Juga: Paku Buwono XIII Dimakamkan di Imogiri Rabu 5 November, Sebelumnya Dikirab Menuju Loji Gandrung
Politik Pecah Belah VOC
Tahta kembar ini menimbulkan kekacauan besar. Dua penguasa mengklaim diri sebagai raja Mataram: satu di Surakarta dan satu di kubu pemberontak. VOC pun memainkan siasat andalannya, devide et impera.
Melalui perantara bernama Tumenggung Sujanapura, VOC menebar fitnah kepada Raden Mas Said bahwa Mangkubumi tidak lagi mempercayainya.
Hasutan ini membuat hubungan keduanya retak. Di sisi lain, VOC menawarkan Mangkubumi kesepakatan, di mana dia akan diberikan separuh wilayah Mataram jika menghentikan perlawanan.
Setelah melalui serangkaian perundingan, termasuk pertemuan awal pada September 1754, akhirnya dicapai kesepakatan besar pada Februari 1755 di Desa Giyanti, dekat Salatiga.
Baca Juga: Raja Surakarta Paku Buwono XIII, 21 Tahun Bertahta yang Penuh Konflik
Lahirnya Kasultanan Yogyakarta
Perjanjian Giyanti melahirkan kerajaan baru, Kasultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi memperoleh setengah wilayah Mataram, sementara setengah lainnya dikuasai Pakubuwana III di Surakarta.
Artikel Terkait
Ken Dedes, Perempuan yang Menurunkan Raja-raja di Jawa?
Blunder Patih Gajah Mada di Perang Bubat
Perang Paregreg, Majapahit Menuju Keruntuhan
Keris Mpu Gandring, Ken Arok, dan Pertumpahan Darah di Kerajaan Singasari
Gayatri Rajapatni, Perempuan Agung di Balik Kejayaan Majapahit