Mangkubumi pun diakui sebagai raja baru dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwana I, menandai berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Namun, isi perjanjian itu lebih banyak menguntungkan VOC. Sultan tidak berhak mengangkat atau memecat pejabat tanpa izin Belanda. Bupati dan pejabat istana juga wajib bersumpah setia di pada VOC.
Sultan juga diwajibkan bekerja sama penuh dengan VOC, membantu jika Surakarta memerlukan dukungan, serta tidak boleh menuntut wilayah pesisir dan Madura yang dikuasai Belanda.
Sebagai kompensasi, VOC memberi ganti rugi sebesar 10.000 real per tahun. Selain itu, Sultan hanya boleh berdagang dengan VOC, menandakan betapa kuatnya monopoli ekonomi Belanda di tanah Jawa.
Baca Juga: Raja Solo Sinuhun Pakubuwono XIII Wafat, Keraton Surakarta Berduka
Jawa yang Terbelah dan Cengkeraman VOC
Meski secara politik Perjanjian Giyanti mengakhiri perang saudara yang melelahkan, namun dampaknya justru semakin memperkuat cengkeraman VOC di Nusantara.
Jawa kini terbagi dua, dan kedua kerajaan,m Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, tetap berada di bawah bayang-bayang Belanda.
Pemecahan wilayah kekuasaan terus berlanjut. Raden Mas Said yang tetap menentang Belanda akhirnya juga diberi jatah wilayah, yaitu Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta.
Tak berhenti di situ, dari Yogyakarta kelak muncul satu kerajaan lagi, Kadipaten Pakualaman, setelah sebagian wilayah Kasultanan diserahkan kepada Pangeran Natakusuma.
Baca Juga: Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan
Akhir Sebuah Era
Perjanjian Giyanti bukan sekadar kesepakatan politik, tapi simbol berakhirnya kejayaan Kerajaan Mataram Islam. Impian besar untuk menyatukan tanah Jawa di bawah satu pemerintahan agung seperti Majapahit kandas.
Sejak hari itu, Jawa tidak lagi satu. Kerajaan Mataram menjadi dua kerajaan dengan satu luka sejarah: perpecahan akibat ambisi kekuasaan dan kelicikan kolonialisme.
Namun dari perjanjian yang getir itulah sejarah panjang Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bermula. Dua kerajaan yang hingga kini tetap menjadi simbol kebudayaan Jawa.***
Artikel Terkait
Ken Dedes, Perempuan yang Menurunkan Raja-raja di Jawa?
Blunder Patih Gajah Mada di Perang Bubat
Perang Paregreg, Majapahit Menuju Keruntuhan
Keris Mpu Gandring, Ken Arok, dan Pertumpahan Darah di Kerajaan Singasari
Gayatri Rajapatni, Perempuan Agung di Balik Kejayaan Majapahit