TITIKTEMU.CO SEMARANG - Velicha Elenagaretha Ami adalah mahasiswa program studi (prodi) arsitektur Unika Soegijapranata Semarang angkatan tahun 2018.
Spirit yang ditanamkan pihak kampus, Talenta pro patria et humanitate, mampu menginspirasi gadis asal Singkawang Kalimantan Barat ini, sehingga dapat menunjukkan prestasi di tempatnya menuntut ilmu.
Baca Juga: Ini Nasihat Ustadz Maulana di Pernikahan Leslar, Tidak Boleh Memukul, Masih Ingatkah?
Melalui talenta dan kegemarannya di bidang arsitektur, Velicha sapaan akrabnya, mampu memberikan ide dan gagasan terbaiknya dalam menanggapi permasalahan yang ada di desa adat kampung Takpala Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur.
Velicha mengikuti sebuah perlombaan karya tulis ilmiah dengan subyek arsitektur vernakular tingkat nasional. Gadis berambut panjang ini berhasil menyabet juara satu di tingkat nasional.
Baca Juga: Lesti Kejora, From Nobody To Somebody. Pernah Hanya Dibayar Rp 10 Ribu Rupiah. Kini...
Lomba tersebut diadakan oleh Yayasan Profesor Gunawan Tjahjono dengan tenggat waktu pengumpulan karya tulis 10 Juni – 10 Agustus 2022 dan total hadiah sebesar Rp. 36.500.000.
“Menurut saya, arsitektur itu tidak hanya desain saja tetapi ada juga karya tulisnya. Karena kebetulan dari dulu SMA saya ingin ikut lomba karya tulis. Oleh karena itu, dengan mengikuti lomba ini bisa juga mengasah saya tentang penulisan ilmiah,” terangya seperti dilansir TITIKTEMU.CO dari laman Unika Soegijapranata Semarang.
Velicha menyampaikan bahwa sebenarnya hasil karya tulis ini merupakan bagian penelitian skripsi yang sudah digarap pada tahun 2021 lalu. Sehingga, ia tinggal meringkas sedikit menjadi karya tulis yang akan dilombakan. Subjek penelitian pada karya tulisnya adalah desa adat kampung Takpala, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Baca Juga: Nggak Hanya Borobudur, Ini 5 Destinasi Wisata Magelang yang Wajib Dikunjungi
Adapun judul karya tulis ilmiah yang diusung adalah “Mitigasi Kebencanaan dalam Tata Ruang di Kampung Takpala”. Velicha ketika survey ke lokasi mendapat informasi dari penduduk setempat apabila daerah Alor kerap terjadi bencana alam. Kemudian, ia melakukan analisa melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Alor untuk mendapati data.
“Saya tertarik dengan keadaan Alor yang sebenarnya bisa dibilang pusat bencana. Dalam analisa saya ketika di BPBD Kabupaten Alor terdapat sepuluh bencana alam yang intensitasnya terjadi setiap tahun, bahkan gempa bumi terjadi minimal tiga kali dalam setahun. Berangkat dari keadaan bencana itu saya berpikir, kenapa rumah-rumah di Alor ini dan kondisi orang-orangnya bisa terbiasa atau bisa dibilang tidak panik ketika bencana terjadi,” ucapnya.
“Lalu, saya ada kesempatan untuk berkunjung ke salah satu desa adat yaitu kampung Takpala. Jadi, Takpala ini sudah cukup terkenal karena desa ini adalah desa adat. Kemudian, yang menarik adalah ketika sering terjadi gempa kampung ini tidak hancur tapi malah bertumbuh,” sambungnya.
Artikel Terkait
Undip Wisuda, Siapkan Lulusan Siap Kerja Dan Berwirausaha
Prodi Doktor Ilmu Sosial Fisip Undip Tawarkan 2 Kajian Studi: Politik dan Administrasi Bisnis
Ikut Prihatin Abrasi di Pesisir Jawa, Akademisi Undip Dukung Program Mageri Segoro Polda Jateng
Habib Luthfi dan Gus Miftah Beri Orasi Ilmiah dalam Dies Natalis ke-57 UNNES
Mau Kuliah di Unika Soegijapranata Semarang? Ada D3 Pajak, 18 Program S1 dan 9 Program Magister
Momentum Ramadhan Sekaligus Jelang Lengser Jabatan, Rektor UNNES Luncurkan Dua Buku
Selangkah Lagi UNNES Menyandang Status PTNBH
Jadi Wisudawan Terbaik S2 Undip, Bambang Sujatmiko Kepala SMK N 4 Semarang ini Justru Ditangisi Putrinya
Astaga, diduga lakukan pelecehan seksual pada 5 orang, Kabid LHK BEM FPIK Undip dipecat