Menjadi orang tua sekarang kadang terasa seperti ikut lomba yang tidak pernah diumumkan garis finisnya.
Di media sosial, ada saja anak yang terlihat punya kamar estetik, ikut kelas stimulasi, memakai perlengkapan premium, sampai rutin dibawa ke berbagai aktivitas—dan tanpa sadar, orang tua lain mulai bertanya, “Anakku kok belum seperti itu?”
Fenomena FOMO parenting muncul ketika rasa takut tertinggal membuat keputusan pengasuhan ikut dipengaruhi tren di media sosial. Masalahnya, yang dibandingkan bukan hanya pola asuh, tetapi juga kemampuan finansial.
Baca Juga: GTA VI Bikin Dunia Gaming Kembali Heboh, Apa yang Membuatnya Begitu Dinanti?
FOMO Parenting Dimulai dari Layar Ponsel
Media sosial sebenarnya tidak selalu buruk bagi orang tua. Riset terhadap orang tua dan remaja di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial digunakan untuk kebutuhan sosial, praktis, hingga hiburan. Namun, paparan konten yang terus-menerus juga bisa membentuk cara seseorang melihat kehidupan keluarga lain.
Bayangkan setiap hari melihat konten tentang “menu terbaik untuk tumbuh kembang anak”, mainan edukatif terbaru, kelas sensory play, stroller mahal, atau sesi foto milestone. Lama-lama, kebutuhan anak bisa terasa seperti daftar belanja yang tidak ada ujungnya.
Padahal, anak tidak tahu apakah mainannya dibeli tunai, dicicil, atau dibayar dengan paylater. Yang tahu adalah orang tuanya.
Baca Juga: NU Beri Peringatan soal Dana Pendidikan dan MBG 2027: “Tak Perlu Tunggu 2028”
Ketika Parenting Berubah Menjadi Kompetisi
Istilah “growth chart” di media sosial bukan cuma soal tinggi dan berat badan. Secara tidak langsung, muncul pula ukuran lain: berapa banyak aktivitas yang diikuti anak, seberapa estetik kamarnya, sekolahnya di mana, sampai berapa banyak pengalaman yang bisa dipamerkan.
Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya hubungan antara perbandingan sosial di media sosial dan tekanan yang dirasakan orang tua. Studi pada 909 orang tua di Australia menemukan bahwa social comparison di media sosial berkaitan dengan kecemasan orang tua dan kecenderungan parenting yang lebih overprotective.
Artinya, tekanan digital bukan cuma soal ingin membeli barang. Ada dorongan emosional untuk merasa sebagai “orang tua yang cukup baik”.
Baca Juga: Bencana Nasional Kini Tak Harus Penuhi 5 Syarat, MK Pangkas Jadi 3—Tapi Ada Satu yang Wajib!
Dari FOMO ke Paylater
Bagian yang paling berbahaya muncul ketika standar parenting di layar mulai diterjemahkan menjadi keputusan finansial.
Sebuah penelitian 2026 dalam Finance Research Letters menemukan bahwa penggunaan BNPL dan paparan media sosial masing-masing berkaitan dengan meningkatnya tekanan finansial. Ketika keduanya muncul bersamaan, dampaknya terhadap utang tanpa agunan dan financial insecurity menjadi lebih besar.
Artikel Terkait
Nonton One Piece Eps 1176 Sub Indo: Pertarungan Gunko vs Kru Topi Jerami Dimulai
Nonton One Piece Episode 1176 Sub Indo 31 Agustus 2026, Cek Link Resminya
Bencana Nasional Kini Tak Harus Penuhi 5 Syarat, MK Pangkas Jadi 3—Tapi Ada Satu yang Wajib!
Bukan Lagi Dipilih Langsung! Muktamar NU Ubah Cara Menentukan Ketum PBNU 2026–2031
NU Beri Peringatan soal Dana Pendidikan dan MBG 2027: “Tak Perlu Tunggu 2028”
13 Kejahatan Kini Masuk Radar RUU Perampasan Aset, dari Korupsi hingga Pajak
GTA VI Bikin Dunia Gaming Kembali Heboh, Apa yang Membuatnya Begitu Dinanti?