Sepanjang hari, anak berusaha mengikuti aturan, berbagi dengan teman, mendengarkan guru, dan mengelola berbagai stimulasi. Semua itu membutuhkan energi mental yang besar.
Begitu sampai rumah dan bertemu ibu, mereka merasa tidak perlu lagi “menjaga diri”. Hasilnya? Tangisan, rengekan, atau ledakan emosi yang membuat ibu kebingungan.
Meski melelahkan, kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi pada anak usia balita hingga sekolah dasar.
Baca Juga: Toilet Training Gagal Terus? Mungkin Kamu yang Belum Siap, Bukan Anaknya
Ikatan Aman Membuat Anak Berani Menunjukkan Emosi
Dalam teori attachment atau keterikatan yang dikembangkan psikolog John Bowlby, anak yang memiliki secure attachment akan merasa aman untuk mengeksplorasi dunia dan kembali kepada figur pengasuh ketika membutuhkan kenyamanan.
Menariknya, rasa aman ini juga membuat anak berani menunjukkan sisi rapuh mereka.
Jadi ketika anak lebih sering menangis atau rewel di hadapan ibunya, itu tidak selalu berarti hubungan mereka buruk. Justru sering kali menunjukkan bahwa anak yakin ibunya akan tetap menerima dan mencintainya meskipun sedang marah atau sedih.
Baca Juga: Lee Dong Wook Bangkit dari Kematian? Fakta Season 2 A Shop for Killers yang Bikin Fans Tidak Tenang
Kapan Ibu Perlu Khawatir?
Meski rewel merupakan bagian normal dari perkembangan anak, ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan:
- Tantrum berlangsung sangat lama dan sangat sering.
- Anak melukai diri sendiri atau orang lain secara ekstrem.
- Perubahan perilaku muncul secara mendadak.
- Gangguan emosi menghambat aktivitas sehari-hari.
Jika hal-hal tersebut terjadi, konsultasi dengan dokter anak atau psikolog dapat membantu menemukan penyebab yang mendasarinya.
Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan Ibu?
Saat anak sedang rewel, fokus utama bukan menghentikan emosinya secepat mungkin, melainkan membantunya merasa dipahami.
Cobalah tetap tenang, beri nama pada emosinya, dan hadir sebagai tempat aman bagi anak. Memang tidak mudah, terutama ketika energi ibu sudah habis. Namun memahami alasan ilmiah di balik perilaku tersebut bisa membantu mengurangi rasa bersalah yang sering muncul.
Lain kali ketika anak kembali merengek hanya kepada Anda, mungkin bukan karena Anda gagal menjadi ibu yang baik. Bisa jadi karena Anda adalah orang yang paling ia percaya untuk melihat seluruh sisi dirinya—termasuk saat ia sedang tidak baik-baik saja.***