Proses transformasi pariwisata bisa dilakukan dengan alih teknologi. Itu yang pertama. Pemerintah mewajibkan seluruh pengelola destinasi menggunakan teknologi sebagai pintu masuk memasarkan produk, sekaligus memastikan pengujung mulai dari hari kedatangan sampai verapa lama tinggal di destinasi.
Dengan teknologi ini, maka setiap destinasi bisa mudah melakukan kontrol jumlah pengunjung. Contoh jika sebuah kawasan biasa muat 1000 orang per hari, maka teknologi memungkinkan untuk melakukan pembatasan karena pengunjung sudah melakukan pendaftaran jauh-jauh hari.
Kedua, perilaku. Selain pembatasan jumlah, tentu hal yang tidak boleh ditawar adalah pengaturan perilaku di dalam kawasan. Hal ini untuk memastikan tidak terjadinya hal-hal yang melanggar protokol corona. Karena dengan jumlah pasti pengunjung, pihak kawasan bisa mengelola kumpulan dan akses ruang pada setiap destinasi dengan mudah dan terarah.
Ketiga, sinergi. Sinergi atau kolaborasi ini bisa dilakukan dengan berbagai dimensi. Misalnya sinergi dengan pemerintah daerah yang berbeda; atau jenis produk wisata yang berbeda, atau pengelola destinasi lainnya. Dengan sinergi ini maka wisatawan akan mendapatkan berbagai pengalaman yang beram karena tidak terpaku pada satu titik destinasi saja. ***
Penulis: Ganug Nugroho Adi