Sekadar ilustrasi, sebuah daerah menawarkan pemandangan alam luar biasa: indah, eksotis, dan mengagumkan. Para pelancong lokal pun mulai berdatangan.
Pada kondisi seperti itu, ide-ide baru harus muncul untuk memberikan pengalaman lebih kepada para pelancong. Pada gilirannya, pelancong yang mendapatkan nilai tambah dari kunjungannya.
Kasus kedua adalah daerah dengan kondisi yang sebaliknya; tidak indah dan juga tidak mengagumkan. Nah, di sinilah dibutuhkan peran tourism creator.
Merujuk kepada baseline data, mereka kemudian membangun infrastruktur menuju ke destinasi. Kemudian daerah tersebut disentuh dengan tawaran pengalaman baru kepada calon wisatawan. Termasuk beragam program yang menawarkan berbagai keunikan pengalaman.
Untuk model kedua biasanya memang harus ada upaya-upaya yang lebih khusus, tidak sekedar pelayanan. Upaya-upaya itu antara lain promosi besar-besaran dan juga undangan-undangan kepada para wisatawan untuk mendapatkan pengalaman baru dalam berwisata.
Model kedua ini belakangan mulai bermunculan dan menjadi destinasi yang ramai dan mampu menawarkan pengalaman berbeda kepada wisatawan.
Kedua model atau pendekatan tersebut di atas terbukti sukses dalam dunia pariwisata. Tinggal kita pilih yang mana. Meskipun sepertinya bertentangan secara tajam sebenarnya terlihat bahwa ada irisan yang kuat, yang kemudian mendorong hidupnya pariwisata. Irisan tersebut ada kreativitas.
Sebagaimana ide, kreativitas dalam bidang pariwisata adalah nyawa yang akan memastikan keberlangsungan dan keberlanjutan pariwisata ini. Tanpa nyawa ini, destinasi hanya akan viral saat launching. Setelah akan menjadi biasa atau bahkan hilang. Artinya, tanpa kreativitas sebuah destinasi tidak akan berumur panjang.
Masih pada model kedua, munculnya tourism creator ini sangat berperan dalam memunculkan destinasi dadakan. Inilah yang kemudian dikenal dengan desa-desa wisata. Pikiran kreatif mereka yang seolah sim salabim menciptakan destinasi baru tersebut saat ini benar-benar dibutuhkan wisatawan.
Destinasi dadakan bisa menjadi upaya masyarakat untuk membunuh rasa bosan karena sudah terlalu lama berdiam di rumah. Rasa bosan, kita tahu, bukanlah bentuk kebahagiaan. Alih-alih bahagia, yang terjadi justru bisa menghasilkan ketegangan. Kita tahu bahwa imun bahagia adalah satu penangkal penyakit, termasuk menghasilkan antibodi yang menangkal virus.
Dengan demikian, destinasi dadakan ini bisa dibaca sebagai cara masyarakat membantu pemerintah meningkatkan daya tahan fisik, sosial, dan psikis. Dalam konteks ini tentu himbauan untuk tetap di rumah menjadi kurang nyambung dengan kebutuhan riil. Terlebih lagi sumpeknya hidup semakin meningkat dengan berbagai berita yang kurang positif.
Bagaimana target wisatawannya?
Tidak perlu muluk-muluk. Turis lokal adalah target. Situasi pandemi belum memungkinkan pengelola pariwisata menjangkau turis mancanegara. Bahkan organisasi pariwisata dunia United Nations World Tourism Organisation (UNWTO) juga menganjurkan negara-negara saat ini untuk fokus kepada pasar turis lokal hingga nantinya destinasi wisata siap sepenuhnya dibuka untuk pasar yang lebih besar yakni wisman. Tentu saja tetap dengan protokol kesehatan yang ketat.
Dengan kata lain, jangan dulu promosi besar-besaran ke luar negeri, percuma. Anggaran yang serba terbatas sekarang lebih baik difokuskan pada pembenahan destinasi.
Maka tidak ada cara lain selain melakukan transformasi. Transformasi pariwisata bukan lagi alternatif, tetapi menjadi kebutuhan nyata adanya. Terlebih masa pandemi yang jika salah meresponnya, justru akan memperburuk keadaan. Maka, Transformasi pariwisata bisa menjadi cara untuk bertahan sekaligus beradaptasi.