Transformasi Pariwisata, Sebuah Keharusan di Tengah Pandemi

photo author
Ganug Nugroho Adi, TitikTemu.co
- Kamis, 26 Agustus 2021 | 11:01 WIB
Candi Borobudur (wonderfulindonesia)
Candi Borobudur (wonderfulindonesia)

TITIKTEMU.CO

Hampir dua tahun Covid-19 mengharubiru banyak lini kehidupan; pariwisata, sosial, ekonomi, bisnis besar dan kecil. Pariwisata menjadi lini pertama yang babak-belur. Sudah terlalu banyak cerita pahit pada lini ini.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat, hingga Desember  2020, total kerugian industri pariwisata Indonesia mencapai di atas 150 trilun. Ribuan hotel dan restoran terpaksa tutup, sejumlah maskapai penerbangan dan tour operator stagnan atau bahkan bangkrut.

Berdasarkan data Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) jumlah kunjungan wisatawan di seluruh dunia menurun 44 persen selama pandemi jika dibandingkan2019. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mentok di angka 4 juta orang. Padahal sebelum pandemi angkanya mencapai 18 juta.

Bali, yang merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara, sampai akhirtahun 2020 masih harus menutup pintu wisman untuk menahan laju penyebaran virus corona. Pulau Dewata itu mencatat kerugian pariwisata Rp 9,7 triliun setiap bulan.

Tapi lupakan perkara babak belur itu. Semuanya tidak akan selesai pada sesal. Pada posisi seperti ini hanya ada satu solusi: bangkit!

Kreativitas itu nyawa pariwisata

Pandemi adalah bentuk realitas baru yang harus dihadapi. Maka, realitas baru di era “new normal” ini mau tidak mau adalah hidup berdampingan dengan Covid 19, bukan menghindarinya.

Pariwisata itu dibentuk dari adalah rangkaian pemantik seperti kondisi alam, budaya, kesenian, pola dan tata cara hidup masyarakat serta kerj-kerja kreatif yang dianggap menarik. Karena menarik, maka keindahan, keunikan, kekhasan itu perlu dibagi ke manusia lain (turis).

Dalam konteks idealisasinya, pelancong bukanlah obyek yang sekadar menerima apa adanya. Mereka adalah subyek kritis yang harus diajak untuk berdialektika dengan produk-produk wisata yang ditawarkan. Dengan begitu, kedua belah pihak bisa sama-sama menemukan dan mendapatkan pengalaman atas produk.

Bagi wisatawan atau pelancong, setiap pengalaman dari suatu produk wisata yang dikunjungi atau dirasakannya, akan menghasilkan suatu keputusan: apakah destinasi itu menarik untuk dikunjungi kembali, atau sebaliknya cukup didatangi sekali, diabadikan dalam foto, dan selesai.

Setiap keputusan dari wisatawan akan memberikan dampak pada destinasi, pengelola, dan tentu saja masyarakat sekitar. Semakin menarik sebuah destinasi, semakib banyak pula kunjungan. Pada gilirannya dampak ekonomi untuk lingkungan, sosial ekonomi masyarakat semakin besar.

Itulah sebabnya kemampuan pengelola destinasi, terutama dalam hal mengembangkan sistem produksi produk wisata, bukan hanya menjadi penting, tapi menjadi nyawa bagi keberlangsungan masa depan destinasi. Semakin kuat ide kreatif  sebuah destinasi akan semakin menarik bagi banyak orang.

Peran tourism creator

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X