Kejujuran membutuhkan keberanian. Orang yang jujur harus memiliki keberanian; keberanian untuk mengungkapkan apa pun apa adanya, tidak dibuat-buat, bukan pesanan, bukan pulasan, bukan sekadar untuk membuat orang lain senang, menyenangkan pihak lain, bukan untuk mencari keuntungan diri.
Maka sangat wajarlah kalau orang jujur dibenci mereka yang pura-pura jujur, orang-orang bertopeng.
Sekarang memang banyak orang bertopeng. Dengan bertopeng, identitas seseorang bisa dikaburkan. Jati dirinya disamarkan. Hidup penuh kebohongan dan kemunafikan.
Baca Juga: Meluncur Tahun Depan, Android 13 Bernama Tiramisu. Ini Bocorannya
Untuk menjaga citra diri, seseorang akan selalu melakukan pertunjukkan, performance, di hadapan masyarakat umum.
Kaum dramaturgi memandang manusia sebagai aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran mereka.
Manusia gemar bertopeng. Karena, manusia bertopeng ketakutan bahwa dunia akan menemukannya apa adanya. Salah satu ketakutan terbesar itu jika jati diri sesungguhnya, terbongkar. Apa lagi hidup di era sosial media sekarang yang disebut-sebut penuh pencitraan.
Baca Juga: Resmikan Bendungan Pidekso Wonogiri, Presiden Jokowi: Waduk adalah Kunci
Belum pernah dalam sejarah umat manusia ketika citra diri dipoles sedemikian agar selalu cemerlang. Banyak orang ingin terlihat pandai, dermawan, menawan, pengasih, toleran, saleh, agamis, lembut, cantik, dan tak pernah hitung-hitungan.
Nah ketika dunia menemukan bahwa sesungguhnya tidak lah seperti itu, citra palsu itu seketika berkeping. Harga diri jatuh bersamaan dengan luka hati.
Baca Juga: Liburan ke Jogja? Ini 7 Kuliner di Kawasan Malioboro yang Super Duper
Tidak demikian dengan Mbah Yono. Ia apa adanya. Orang desa yang menjalani kehidupan ini penuh dengan penuh sumarah, legawa–dapat menerima keadaan atau sesuatu yang menimpa dengan tulus hati, ihklas–tetapi tidak berdiam diri. Ia bangkit berdiri dan berusaha dengan menyandarkan kepada Yang Ilahi.
Mbah Yono selalu berpegang teguh ajaran para leluhur bahw urip iku urup, hidup itu harus menyala. Hidup harus selalu dibuat menyala dengan membantu orang-orang di sekitar. Intinya harus bisa memberi manfaat baik itu hal kecil maupun hal yang besar.
Selamat Tahun Baru 2022……..
Sumber: https://triaskun.id/2021/12/31/di-kaki-gunung-merapi/
Artikel Terkait
Malam Tahun Baru di Jogja, Kawasan Malioboro Tetap Dibuka, Koneksi Wifi Dinonaktifkan
Malam Tahun Baru, Alun-alun Kota Klaten Ditutup. Tidak Boleh Ada Kerumunan di Fasum
9 Imbauan Sri Sultan Jelang Natal dan Tahun Baru: Tetap Hati-Hati dan Waspada
Kumpulan doa dan Ucapan Selamat Tahun Baru 2022, Cocok Dibagikan ke Medsos
Kumpulan Twibbon Selamat Tahun Baru 2022, Keren Banget Pokoknya!