Karena itu, mereka membangun jembatan perdamaian lewat hubungan prabadi. Ini sangat penting. Mereka berpegang teguh Urip iku urup. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Sekecil apa pun manfaat yang kita berikan, jangan sampai menjadi orang yang meresahkan masyarakat.
Baca Juga: Kesepakatan Penjualan Chelsea Tercapai dengan Grup Kepemilikan asal Amerika Serikat
Lewat “jembatan hubungan pribadi itu”, mereka mendesak dan mengajak setiap orang untuk melihat, memandang orang lain sebagai manusia. Hubungan yang kuat, tulus, muncul dari hati yang bersih dan dalam inilah yang mendasari lahirnya persaudaraan sejati, dan pada akhirnya perdamaian sejati.
Sebab, seperti bunyi peribahasa Jawa, Manungsa iku kanggonan sipating Pangeran, manusia itu memiliki sifat Tuhan. Misalnya, kudus dan suci, penuh kasih, welas asih, dan kerahiman, pengampun, panjang sabar dan setia, murah hati, adil dan selalu baik kepada siapa pun tanpa diskriminasi.
Rukun hidup manusia merupakan bentuk pertama persekutuan antar pribadi. Sebab dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial; dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat-pembawaannya.
Karena itu, manusia tidak akan memperoleh keutamaan serta tidak akan mampu hidup seorang diri, bila tidak peduli pada yang lain meskipun berbeda dalam banyak hal. Manusia harus menanamkan perilaku menghargai orang lain. Menghargai orang lain berarti mengakui harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan.
Kalau umat beragama– misalnya antara Islam dan Kristiani–bisa saling menerima satu sama lain sebagai saudara dan dengan demikian bisa hidup bersama secara rukun dan damai, saling menghormati secara tulus, maka perdamaian dunia pasti akan terjadi.
Tentu saja, perdamaian dunia itu akan semakin kokoh bila terjadi pula hal sama dengan umat agama-agama yang lain; yang kesemuanya membawa mission sacre, tugas suci membawa dan menciptakan perdamaian dunia.
Baca Juga: Netflix Rilis The Sound of Magic, Kisah Siswi Miskin dan Pesulap Misterius
Karena itu, menjadi sangat penting dan mendesak dilakukan para pemimpin agama (juga pemerintahan) bekerja sama dalam menyebarkan budaya toleransi, merobohkan benteng kecurigaan, kebencian, keangkuhan golongan, dan permusuhan, mencegah pertumpahan darah, dan menghentikan peperangan.
Harus pula didorong agar manusia lintas iman (terutama di negeri kita ini) memiliki hubungan yang lebih kuat, hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati, dan saling menghargai. Maka peristiwa terakhir yang terjadi di Lombok Barat beberapa hari silam, tak perlu terjadi.
Ketiga
Kardinal Suharyo bersama keluarga besar KH Nasruddin Umar (Foto: Istimewa)
Ketika Bapak Kardinal dan Imam Besar Istiqlal, bertemu, berbagi cerita, bermaaf-maafan sebagai saudara, maka “Terowongan Silaturahim” antara Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta, menjadi semakin bermakna.
Baca Juga: Konstruksi Terowongan Silaturahmi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Rampung Pengerjaannya