Najaf adalah salah satu kota suci bagi kaum Syiah yang terletak sekitar 160 km selatan Baghdad ibu kota Irak. Di kota ini, dimakamkan Imam ‘Alī ibn Abī Tālib yang menjadi saksi pertemuan bersejarah dan penuh makna itu. Kebetulan tahun 2003, saya mengunjungi Najaf.
Semua pertemuan itu–yang terjadi di tengah menguatnya sentimen keagamaan, gelagat pudarnya persaudaraan antar-umat beriman, bahkan di negeri ini hawa kebencian sangat terasa–sungguh memberikan angin dan udara sejuk; memberikan semangat baru untuk saling menghormati, untuk saling bergandengan tangan, mengeratkan hati dan pikiran untuk membangun perdamaian dan persaudaraan sejati.
Semua peristiwa persaudaraan itu mengingatkan kembali akan cerita pertemuan Fransiskus Asisi dan Sultan Al-Kamil di tengah kecamuknya Perang Salib V (1217-1221). Pertemuan itu tidak hanya monumental tetapi juga historis dalam konteks dialog antar-iman.
Itulah pertemuan dua tokoh muda—Fransiskus berusia 38 tahun dan Sulan al-Kamil berusia 39 tahun–yang sama-sama memiliki idealisme, impian tinggi tentang masa depan, tentang dunia dan penyelamatan dunia. Hanya satu misi yang dibawa Fransiskus saat menemui Al-Kamil yakni mengupayakan perdamaian, dan mengakhiri perang yang telah menelan demikian banyak korban jiwa dan menyuburkan rasa saling membenci dan dendam antara umat Kristiani dan Islam.
Kedatangan Fransiskus Asisi disambut dengan penuh keramah-tamahan dan persaudaraan oleh Sultan al-Kamil penguasa Dinasti Ayyubiah, di Mesir meski di sekitar mereka bumi, langit, dan udara dipenuhi rasa kebencian dan permusuhan.
Tetapi, pertemuan itu menjadi antidot, sebuah pengingat bahwa menanggapi kekerasan dengan kekerasan pula, tidak akan ada hasilnya, dan bahwa kebaikan dan saling hormat dapat benar-benar mengubah hati.
Baca Juga: Puasa Syawal Pahalanya Setahun Penuh. Simak Bacaan Niat dan Tata Caranya
Kedua
Zaman sekarang ini—terutama di negeri kita–memang membutuhkan orang-orang besar bukan orang yang besar nafsu kekuasaannya. Bukan orang-orang berpikiran picik dan berhati kerdil serta keruh.
Tetapi, yang dibutuhkan adalah orang-orang yang berani menyingkirkan nafsu pribadinya, bukan yang menomorsatukan egonya, bukan pula yang mengutamakan kepentingan dirinya yang tidak jarang–meminjam istilahnya Niccolò di Bernardo dei Machiavelli (1469-1527)— menghalalkan segala cara. Bahkan menggunakan agama untuk keuntungan, termasuk untuk merebut kekuasaan.
Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang berhati bening dan berwawasan luas untuk berani menerobos dan merobohkan benteng kesaling-ketidakpercayaan, saling curiga, bahkan mungkin permusuhan.
Baca Juga: Elon Musk Bakal Kenakan Tarif untuk Pengguna Twitter. Akun apa saja? Ini Rinciannya
Maka, ketika pertemuan pribadi terjadi–Fransiskus Asisi dan Sultan al-Kamil, Paus Fransiskus dan Sheikh al-Tayyid, Paus Fransiskus dan Ayatollah Agung Ali Sistani, antara Kardinal Suharyo dan KH Nasaruddin Umar, serta para pemimpin lainnya yang berhati jernih, dan luas seluas samudra –perdamaian mendapat kesempatan untuk lahir.
Mereka itu adalah tokoh-tokoh yang selalu hidup dalam tuntunan keutamaan-keutamaan (virtus), dalam kesatuan hati (concordia) dengan semua orang, senantiasa memelihara dan menjaga kepercayaan (fides) dari orang-orang di sekitar, dan terus berusaha mencintai kebenaran (veritas).