opini

PURI GEDEH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Senin, 31 Januari 2022 | 05:30 WIB
Puri Gedeh, rumah dinas Gubernur Jawa Tengah (semarangkota.go.id)

Namun, kami datang ke Puri “Gedeh” bukan untuk bicara soal politik; utamanya politik kekuasaan.

Kami datang untuk bersilaturahim dan sekadar ngobrol di akhir tahun. Sehari sebelumnya, dari Yogyakarta, saya kontak Pak Ganjar lewat WA: “Pak, saya bisa sowan?” Dan, segera dijawab, “Mangga, Mas. Silakan.” Dan, kami pun ketemu, meskipun saya salah waktu, datang sehari lebih cepat. Tetapi, “Masuk saja, Mas,” tulisnya lewat WA.

Baca Juga: 9 Makanan Wajib Saat Imlek, Simbol Rezeki, Kemakmuran, Hingga Panjang Umur

Sebenarnya, ngobrol soal politik dengannya sangat menarik. Apalagi kalau ngobrolin soal intrik-intrik, tipu daya, manuver-manuver, muslihat-muslihat politik.

Sebab, membicarakan intrik politik, misalnya, berarti membicarakan para aktor yang  berintrik; dan bagaimana mereka memainkan intrik untuk mencapai tujuannya.

Politik tak bisa lepas dari intrik.

Baca Juga: Mantan Pelatih Chelsea Frank Lampard Ditawari Menjadi Manajer Everton Setelah Penolakan Wayne Rooney

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata intrik—yang berakar dari bahasa Latin, intricare (menyusahkan, membingungkan), lalu bahasa Italia, intrigare (mencampuri, merencanakan dengan diam-diam, dan membingungkan), kemudian masuk dalam bahasa Perancis, intriguer (main curang, menimu, mencurangi, dan memperdaya, menipu)–berarti penyebaran  kabar bohong yang sengaja untuk menjatuhkan lawan. Menjelang pemilu nanti akan bertebaran intrik, yang sekarang sudah mulai bermunculan.

Dalam politik selalu ada hubungan pertentangan (antagonistic), persaingan (adversarial), dan bekerja sama (collaborative) baik dengan rekan atau lawan.

Baca Juga: 5 Shio yang Akan Kaya Raya di Tahun di Tahun 2022, Rezeki Terus Mengalir

Meski demikian, ada  kecenderungan umum dalam politik, di mana tiap aktor biasanya memiliki kehendak untuk menyelesaikan berbagai perbedaan itu melalui mekanisme yang disepakati.

Politik sering dikatakan sebagai―the art of possible atau seni kemungkinan yang ditandai dengan kompromi antar aktor. Sehingga, praktik politik seharusnya berkorelasi dengan negosiasi, perundingan, dan take-and-give, serta menghindar menggunakan pendekatan zero sum game yang kaku dan non-kompromisitk.

Maka Marcus Tullius Cicero (106 SM- 43 SM), tokoh politik  zaman Romawi mengatakan, politik tidak sebersih pertandingan gulat, tidak pula dimainkan menurut peraturan yang tetap.

Baca Juga: INFO LOKER : Ada 7 Posisi untuk Sarjana di PT Aneka Gas Industri Tbk, Chekidot!

Sekarang ini yang namanya manuver-manuver politik untuk membangun jalan ke tahun 2024, sudah banyak dilakukan dalam berbagai bentuk dan cara. Juga intrik-intrik politik.

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB