Baca Juga: Keren! Warga Bantul Patungan Beli Mobil Ambulans
Dengan kata lain, bila yang dipimpin semaunya sendiri atau bahkan merasa lebih hebat, lebih atau paling benar dibanding yang memimpin sehingga cenderung ngomong sesukanya dan bertindak semaunya, maka semakin benar apa kata Sang Raja.
Apa pun yang dikatakan atau dilakukan Sang Raja dianggap salah, tidak baik, tidak bermutu, dan hanya janji-janji belaka.
Sementara, yang memberikan penilaian seperti itu terhadap Sang Raja, juga tak berbuat apa-apa.
Baca Juga: 7 Kedai Kopi di Klaten yang Instagramable, Nongkrong Kuy!
Atau kalaupun berbuat, ya untuk kepentingan kelompoknya sendiri atau sekadar untuk membangun citra.
Itulah yang hari-hari terjadi. Paling mudah, memang, mengritik. Kritik-mengritik adalah keniscayaan negara demokrasi.
Tetapi, kritik-mengritik jelas tidak sama dengan mencemarkan nama baik, menabur kebencian, menyebarkan ketidaksukaan, waton beda, asal beda, waton sulaya, tidak peduli yang diomongkan benar atau salah, yang penting diteriakkan.
Baca Juga: Epidemiolog: Penurunan Harga PCR Jangan Turunkan Kualitas
Adalah kurang atau malahan tidak elok, bersembunyi, berlindung di balik kebebasan untuk mengritik di negara demokrasi ini.
Sebenarnya, mereka—siapa pun—paham betul apa dan bagaimana mengritik. Mereka juga memahami betul rambu-rambu, batasan-batasan mengritik.
Tetapi, yang banyak terjadi, pura-pura tidak tahu, lupa, atau malahan sambil tidur mereka mengritik.
Baca Juga: Yuk, belajar Tentang Kopi di Sekolah Kopi Gemawang di Temanggung
Semestinya, memang, sampaikan kritik yang betul-betul kritik, bukan hinaan, hasutan, pencemaran nama baik, ungkapan kebencian, atau tindakan-tindakan tercela lainnya.
Di zaman digital ini, memang manusia bisa menumpahkan apa saja di Internet, termasuk kebencian, permusuhan, agresivitas, egoisme, dan naluri destruktifnya.