Kata Cicero, "Hostis aut amicus non est in aeternum; commoda sua sunt in atemum lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi; yang abadi hanyalah kepentingan." Dalam kasus Brutus dan Yudas, kepentingan kekuasaan dan uang yang menggerakkan mereka. Di dalam diri uang dan kekuasaan sejak semula tersimpan benih-benih pengkhianatan.
Maka, Publillius Syrus (85-43 SM), seorang budak dari Suriah yang dibawa ke Roma, menasihatkan, "Cave amicum credas, nisi quem probaveris"—hati-hatilah, jangan memercayai seorang teman, kecuali engkau telah mengujinya. Menguji dengan uang dan kekuasaan.
Baca Juga: Disporapar Jateng Gelar Lomba Video #DiJatengAja
Yang dikatakan Cicero dan nasihat Syrus, rasanya perlu diingat (terutama) oleh mereka yang masih memegang teguh bahwa tujuan berpolitik, misalnya, adalah mengusahakan kemaslahatan bersama. Sebab, ada yang tidak demikian.
Ada yang mengartikan politik hanya sebagai alat atau kendaraan untuk memburu kekuasaan, kebutuhan diri, alat untuk membalas sakit hati. Maka, bisa terjadi, yang kemarin kawan, sekarang lawan; Yang kemarin musuh, sekarang kawan.
Kata orang-orang bijak, begitulah watak politik tanpa hati, tanpa kebajikan. Watak politik seperti itu selalu menjangkiti politisi yang tidak berhati meskipun berjantung seperti pohon pisang.***
Sumber: https://www.triaskredensialnews.com/kredensial/brutus-dan-yudas/