Bibirnya yang sedikit terbuka mengartikan bahwa ia lembut dan berbudi luhur. Titik emas diantara alisnya menunjukkan bahwa ia adalah keturunan dewa.
***
Apakah itu adalah pseudo reality (realitas palsu" atau virtual reality (realitas maya), seperti yang suka disebut-sebut sobat saya Bre Redana? Bukankah kalau ada pseudo reality juga ada genuine reality (realitas nyata atau realitas asli).
Baca Juga: Sinopsis Film From Paris With Love, Aksi John Travolta Melawan Teroris
Ah, terus terang, saya nggak paham, bukan hanya kurang paham soal-soal itu. Tetapi yang jelas, begitu bertopeng, maka wajah dan watak aseli hilang digantikan wajah topeng, wajah palsu, realitas pseudo yang menggambarkan karakter tertentu. Namun, itu wajah kepalsuan. Wajah citra.
Sebab watak topeng berbeda dengan watak orang yang bertopeng. Bisa watak topeng lebih baik, juga lebih buruk dibanding watak aseli pemakai topeng.
Baca Juga: Harapan Gelar Arsenal Memudar, Setelah Kalah Tiga Gol Tanpa Balas oleh Brighton
Itulah politik citra. Politik citra adalah politik gincu, politik bedak, politik salon, politik sandiwara. Gampangannya, itu politik palsu. Meskipun, tentu hal itu mengkhianati misi suci politik.
Tapi, sudah menjadi permakluman umum bahwa dalam politik, bermain citra ya sah-sah saja. Sebab, politik itu citra. Politik pencitraan itu penting, tapi pencitraan bukan segala-galanya. Meski ada yang beranggapan demikian.
Baca Juga: Sinopsis Film Fast X, Penutup Sequel Film Fast and Furious
Sebab, masih ada faktor-faktor lain, yang menentukan dalam berpolitik. Misalnya, kualitas moral, kapabilitas intelektual, dan kekuatan jaringan, perlunya memiliki modal politik, modal elektabilitas, dan modal finansial.
Kualitas moral, misalnya, dapat dilihat dari rekam jejaknya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam memimpin organisasi yang pernah dipimpinnya. Pendek kata, bila seseorang memiliki kualitas moral yang tinggi, artinya benar-benar menjadi manusia yang bermartabat.
Baca Juga: Gimana Mengadu Kuliner Dengan Fesyen, Hasilnya WOW
Lalu kapabilitas intelektual. Ini berarti, memiliki penguasaan konsep kepemerintahan yang terkait dengan jabatan publiknya nanti dan mampu melaksanakannya, mampu mewujudnyatakan konsep-konsepnya itu. Bukan orang yang istilahnya "esuk dele sore tempe"alias mencla-mencle, nggak bisa dipegang omongannya.
Tapi, di lingkungan kita yang menonjol memang soal pencitraannya. Maka tidak aneh kalau sekarang ini—sebetulnya selalu terjadi saat jelang pemilu/pilkada—banyak yang tiba-tiba bermanis-manis muka dengan rakyat. Padahal sebelumnya tak pernah peduli, karena lebih sibuk mengurusi kebutuhannya sendiri; kebutuhan keluarganya, kelompoknya, dan golongannya.