Baca Juga: Cara Cepat Mengumpulkan Koin Emas di Misi Keruntung dan Mencairkannya ke Saldo Dana
Sementara itu, harga kertas naik 90% dalam lima tahun. Pajak buku tetap 11%. Distribusi hanya menjangkau kota besar. Pembajakan digital merajalela. Sistem tak berpihak.
Kini, dengan munculnya ChatGPT dan ribuan model serupa, pembaca bisa mendapat informasi yang lebih cepat, lebih lengkap, dan gratis. Mesin menyediakan jawaban yang lebih luas dari perpustakaan manapun.
Menulis di Indonesia seperti bercocok tanam di gurun pasir. Terik terlalu menyengat. Tak ada air untuk harapan.
Baca Juga: 8 Drama Korea Terbaru Tayang Juni 2025, Salah Satunya Squid Game Season 3
Tahun 2025 adalah tonggak baru: ribuan naskah lahir dari mesin, dalam hitungan detik.
AI kini bisa menulis novel roman, puisi melankolis, bahkan buku motivasi dengan judul yang menjual. Mesin tak hanya menyalin gaya—ia menebak emosi, meniru struktur narasi, menyusun dialog yang menyentuh.
Namun ada satu hal yang tak bisa AI tiru: kehilangan yang nyata.
Bayangkan ini: di sudut sebuah warung kopi di Yogyakarta, seorang penulis muda bernama Naila mengetik dengan laptop retak. Ia baru kehilangan ibunya. Ia menulis bukan untuk menang lomba atau dilirik penerbit besar. Ia menulis agar tak tenggelam dalam duka.
Puisinya, Peluk yang Tak Tiba, menyentuh bukan karena teknisnya rapi, tapi karena tangisnya nyata.
AI bisa merangkai bait. Tapi ia tak pernah kehilangan ibu. Tak pernah menggigil dalam sepi. Tak bisa menangis saat mengetik.
Dan di sanalah perbedaan mendasarnya.
Baca Juga: BRI Rilis Indeks Bisnis UMKM Triwulan I 2025 : Kinerja Terus Tumbuh dan Tetap Optimis
Di era AI, penulis terbagi menjadi dua: