Padahal semestinya, kata Kardinal Suharyo, "Si vis pacem, para iusticiam" (Latin) atau "Se vuoi la pace, prepara la giustizia"(Italia), jika ingin damai, tegakkanlah keadilan. Itu yang belum terjadi.
Dalam iman Katolik dikatakan yang namanya "pax", damai, akan terwujud kalau ada hubungan yang harmoni antar-sesama manusia, antara manusia dengan alam, hubungan yang baik dengan diri sendiri, dan antara manusia dengan Tuhan.
Kata Kardinal Suharyo, dalam pidato pertamanya di hadapan Dewan Kardinal (10/5), Paus Leo XIV mengungkapkan inspirasi di balik nama yang dipilihnya. Nama tersebut, menurut Paus Leo XIV, menggemakan komitmen abadi Gereja terhadap martabat manusia dan keadilan sosial.
Baca Juga: Super Bear Adventure Beta Dirilis! Unduh APK Terbaru untuk Android Fitur Eksplorasi Dunia 3D Terbuka
Nama tersebut, tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga nama yang memandang dengan tegas ke depan terhadap tantangan dunia yang berubah dengan cepat dan panggilan abadi untuk melindungi mereka yang paling rentan di dalamnya.
Sebab, "Paus Leo XIII, dengan Ensiklik Rerum Novarum yang bersejarah, membahas masalah sosial dalam konteks revolusi industri besar pertama."
Dahulu, Paus Leo XIII menjawab tantangan dan persoalan zaman sebagai akibat negatif revolusi sosial dan revolusi budaya berpuncak pada Revolusi Industri di Eropa, menerbitkan Ensiklik Rerum Novarum (Hal-hal Baru). Revolusi sosial di Perancis yang melahirkan Revolusi Perancis dengan trilogi semboyannya: liberte, egalite et fratemite.
Baca Juga: Gaji PNS Golongan IIIA Naik, Bisa Tembus Rp5 Juta Per Bulan Mulai Juni 2025
Ketiga semboyan ini mendorong manusia untuk memperjuangkan persamaan hak atas dasar kesamaan martabat pribadi manusia. Di samping itu, Revolusi Perancis ini mendorong orang untuk membentuk sistem pemerintahan demokratis yang menghargai dan melindungi hak setiap individu, menghargai pluralitas, menumbuhkan sikap toleran, menegakkan keadilan, mempromosikan partisipasi aktif setiap manusia dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama (Laurentius Tarpin, 2008).
Tetapi, revolusi sosial ini juga membawa ekses negatif, yakni individualisme ekstrem, imperialisme, totalitarianisme, fasisme, marginaliasi nilai-nilai spiritual, marginalisasi agama dan moral, hegemoni budaya dan sistem pemikiran tertentu atas nama universalitas.
Baca Juga: Jokowi Tanggapi Meme Ciuman dengan Prabowo: Demokrasi Jangan Sampai Keblablasan
Revolusi Industri menjadi cikal bakal kapitalisme modern yang kemudian akan memicu gerakan ekspansi kolonialisme dan imperialisme yang melahirkan penindasan, ekploitasi manusia dan sumber daya alam yang melahirkan kemiskinan dan keterbelakangan di negara-negara terjajah.
Yang paling memprihatinkan adalah kemakmuran di dunia kapitalis mengakibatkan penderitaan, kemiskinan dan ketergantungan di negara-negara Dunia III. Menanggapi semua itu, pimpinan Gereja Katolik, Paus Leo XIII menunjukkan asas-asas dan pedoman-pedoman dasar yang perlu untuk menyusun tata sosial yang adil berinspirasikan nilai-nilai Kristiani (Dokpen KWI). Dokumen itu menandai dimulainya doktrin sosial modern Gereja.
Baca Juga: 19 Batang Ganja Ditemukan di Kerinci, Apakah Termasuk Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)?